Iklan 8

Jumat, 31 Desember 2021

AKU dalam CERITA: Terkuak dari Buku Harian

AKHIR tahun 1993, aku berangkat dari kampung halamanku, Kota Tauco Cianjur menuju Kota Kembang Bandung untuk mencari pekerjaan. Barangkali selembar ijazah yang kumiliki bisa mengantarku meraup rezeki.
Mujur, bukan hanya pekerjaan dan penghasilan yang diperoleh meski hanya sebagai buruh pabrik dan pramuniaga, tetapi kuperoleh pula mojang Bandung. Setelah berpacaran sampai kebablasan dan dia minta dipersunting, eh tiba-iba harus putus. Ternyata, aku hanya dijadikan ban serep. Berkat bantuan keponakanku yang berada di Bandung, aku bekerja di sebuah pabrik sebagai teknisi mesin. Pada masa percobaan aku sudah tak betah. Maklum jiwa mudaku masih labil, aku pun mencari pekerjaan lain. Melalui iklan di sebuah harian aku mencoba melamar dan diterima sebagai pramuniaga di sebuah pasar swalayan. Lingkungan kerja di sini terasa lebih baik, penuh suka, terutama bisa cuci mata. Saat itu darah mudaku tengah bergelora, apalagi melihat mojang-mojang Bandung yang gareulis. Karena terhibur dengan suasana kerja yang nyaman, tak terasa aku sudah 2 tahun bekerja di sini. Kurasa sudah waktunya aku punya calon istri kelak. Kuingat pesan orangtua, "Moal aya nu beunghar bubujangan" alias takkan ada orang kaya karena membujang. Suatu saat ada karyawati baru sebagai tenaga pemasaran atau istilah kerennya sales promotion girl, aku mulai cunihin. Orang Cianjur bilang ngetrek. Meski belum berpengalaman, tapi soal rayu-merayu aku tak kesulitan. Soalnya sikap dan sifatku suka humor dan bercanda. Tai kuku ngagoda perempuan mah! BENAR juga dalam waktu sekejap aku sudah akrab bahkan langsung lengket kayak perangko. Tampaknya dia pun menyambut, "batu turun keusik naek, itu purun kuring daek" alias suka sama suka. Mulailah dirancang strategi bagaimana agar bisa pacaran lebih asyik lagi. Kebetulan hari libur itu bergiliran mulai Senin sampai Jumat. Kami sepakat memilih hari Rabu untuk libur biar punya kesempatan luas. Aku benar-benar merasa sebagai Romi meski namaku Fudin dan kekasihku sebagai Yuli meski nama aslinya Yati. Suatu hari Yati mengundangku datang ke rumahnya di sekitaran Jalan Pajajaran Bandung. Tentu saja aku gembira. Ini menunjukkan keseriusan cintanya padaku. Kupenuhi undangannya meski semula aku ragu, maklum untuk pertama kalinya. Siapa tahu calon mertuaku galak atau tidak menyetujui punya menantu orang kampung sepertiku. Akan tetapi ternyata di rumah Yati cuma dia sendiri. Kata Yati, ayahnya sedang pergi ke kantor, adiknya sedang bersekolah, sedangkan ibunya lagi ke undangan. Terang saja aku berteriak dalam hati, "Bebas euy!" "Din jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri yah! Mau nonton TV, mau main sega, mangga!" tutur Yati sambil ngeloyor ke kamar mandi, katanya mau mandi. Aku diam saja, belum berani bertingkah. Tak lama kemudian Yati menyodorkan minuman. "Sok dileueut," tawar Yati, dibumbui senyuman renyah. "Minuman apa nih Yat?" Aku pura-pura tak tahu. "Racun, kan kamu tadi bilang apa saja," candanya sambil lari menjauh. "Gila kamu, awas yah!" timpalku sambil bangun dari tempat duduk lalu mengejar kekasihku yang ternyata lari ke kamar tamu. Dari belakang kutangkap tubuhnya yang belum berpakaian lengkap. Semula aku menangkap dia cuma main-main. Tetapi dekapanku malah disambut pelukannya yang hangat. Aku terkejut, bagaimanapun ini tak boleh terjadi. CINTA sih cinta, tapi bercumbu rayu sampai kebablasan jelas terlarang, aku sadar itu. Sontak aku menjauhi Yati, membetulkan bajuku yang kusut bekas mendekapnya. Akan tetapi malah dia mengejar lalu mendekapku kuat-kuat. "Sekwilda"-nya mulai terbuka, desah napasnya kencang. Setebal-tebalnya imanku pada saat muda, akhirnya luluh juga. Tak ayal pertarungan ronde kedua pun berlangsung. Kalau ronde pertama cuma main-main, kini ngelayap ke lembah terlarang. Andai saja saat itu bel rumah tak berbunyi, mungkin keperjakaanku sudah jebol. Segeralah permainan terlarang itu kami akhiri. Aku memburu permainan sega, sedangkan Yati pura-pura mencuci piring. Aman. Yang datang itu ternyata ibunya Yati. Saat itu pula aku diperkenalkan oleh Yati kepada ibunya yang tampak ramah sehingga niatku untuk langsung pamitan diurungkan. Setelah kejadian pertama di rumah Yati, aku merasa berdosa. Aku berharap hanya itulah yang terjadi toh nanti juga kalau sudah menikah bisa leluasa. Namun, kenyataannya lain. Suatu hari ketika aku tiduran pada hari libur di rumah kontrakan sekitar pukul 09.00 WIB, tiba-tiba tubuhku terasa ada beban. Tercium wangi. Ketika kulihat, ya ampun...Yati. Aku kaget. Dia malah tersenyum manis. Aku bangkit dan permisi untuk mandi. Usai mandi, bagaikan kucing melihat tikus, tiba-tiba Yati menarik lenganku yang saat itu cuma mengenakan handuk dan CD segitiga pengaman. Aku digusur ke atas kasur, lalu...astagfirullah terjadilah peristitwa memalukan. Keperjakaanku saat itu benar-benar jebol belum waktunya. Ironisnya, Yati pun menangis. Entah tangis sedih karena kegadisannya hilang atau sebaliknya gembira dapat menaklukkanku. DASAR kami sudah dirasuki setan, permainan tabu dan terlarang itu masih berlanjut pada setiap ada kesempatan baik di rumah kontrakan maupun di rumah Yati. Lama kelamaan mungkin Yati takut terjadi apa-apa, ia memintaku untuk bertunangan secara resmi ke orangtuanya. Waktu itu tahun 1995. Aku tak keberatan. Merasa Yati telah resmi menjadi calon istriku, aku tak ragu-ragu mengajaknya ke kampung halamanku di Cianjur. Saat itu menjelang tahun 1996. Di perjalanan tak terduga Yati nyeletuk, "Din Yati mah embung dua kali deui ka dieu teh," katanya. Keruan aku terkejut. Ketika kutanyakan apa alasannya, Yati cuma bilang karena terlalu jauh. Di rumahku, aku bersikap layaknya suami istri dan tidur sekamar. Orangtuaku menerima Yati apa adanya, bahkan saat itu kami merencanakan pernikahan pada bulan Agustus 1996. Sepulang dari kampungku itulah Yati tampak lain dari biasanya. Aku mulai curiga terhadap perkataannya. Ketika didekati untuk bermesraan, kini dia malah menghindar. Suatu hari aku sakit (tipes), ternyata Yati masih menyayangiku. Dibawanya aku ke rumahnya, bahkan ketika Yati bekerja, ibunyalah yang merawatku. Tapi aku masih curiga. Suatu saat aku membuka kasur yang biasa ditiduri Yati di kamarnya dan kudapatkan catatan buku harian. Kubaca satu per satu isinya. Kudapati dalam catatan itu Yati menulis bahwa dia sudah punya pacar teman sekolahnya yang telah pergi selama dua tahun. Selama kepergian pacarnya itulah Yati melepaskan kerinduannya padaku. Kini, pacarnya telah kembali, pantas kalau aku mulai dijauhi. Artinya selama ini aku hanya dijadikan ban serep, pacar cadangan, atau cinta pelarian. Aku pun akhirnya mundur teratur, dilanjutkan juga takkan benar, apalagi sudah diketahui motif Yati selama ini mendekatiku. Selepas dari Yati aku pun menjalin kasih dengan wanita lain. Alhamdulillah berjodoh bahkan hingga dikaruniai keturunan. Sembari menjalani rumah tangga, rasa sesal telah berbuat dosa dengan Yati selalu menghantui benakku karena ketika aku mau menikah mengaku masih bujangan, padahal... "Ya Allah semoga Engkau mengampuni segala dosaku." (habis/tulisan ini telah turun di HU Galamedia dalam rubrik Kisah edisi 16 Maret 2001) **

CARNYAM SARWA "A", Gara-gara Randa Anyar (5) Nyacampah Garwa

Foto: kreasi Dola AI "Haaaar.....naha kalah ngabarakatak?" "Nya ngabarakatak Bah, masa Abah-abah ngajakan garwaan...