Iklan 8
Sabtu, 26 Juni 2021
CERITA dari KALTARA: Api Cemburu Membawa Petaka
Ilustrasi./via antaranews.com/ist.
POS-cerita.blogspot.com - Orang bilang cinta bisa membawa petaka. Tentu ini cerita tentang cinta yang kebablasan. Cemburu kebangetan adalah contoh cinta kebablasan.
Kalau sudah begitu yang muncul emosi meluap-luap, selebihya berubah perilaku menjadi manusia kerasukan setan. Ujung-ujungnya nyawa orang pun dengan enteng dihabisi meggunakan parang, seperti cerita fakta di awah ini.
Api cemburu seorang warga Nunukan, Kaltara Tr (45) membawa petaka karena dengan senjata tajam ia membabi buta menyerang Anwar (52) hingga tewas, Jumat (25/6/2021) karena dituding merebut mantan istrinya.
Sekira 10.15 Wita datang Tr ke tempat korban bekerja dengan mengendarai kendaraan roda dua lalu turun sembari mendatangi korban.
Dari arah belakang, Tr langsung beberapa kali menebas dan menusukkan parangnya yang melukai kepala leher dan perut korban menyebabkan Anwar tersungkur tak berdaya.
Melihat korban tidak berdaya, pelaku membuang parangnya lalu pergi dengan mengendarai sepeda motornya untuk menyerahkan diri ke Polres Nunukan.
Sedangkan korban Anwar dilarikan ke rumah sakit oleh warga dan polisi namun nyawanya sudah tidak tertolong lagi.
Pembunuhan berencana tersebut berawal permasalahan hubungan khusus yang dilakukan Anwar dengan mantan istri Tr (Thamrin) yang bernama Ida.
"Pelaku dengan Ida menikah siri
pada tahun 2017 di Nunukan, kemudian pada tahun 2019 keduanya berpisah. Menurut Ida hubungan pernikahan siri itu sudah berakhir, namun pelaku tidak menerima," kata Iptu M. Karyadi, Kasubag Humas Polres Nunukan.
Sejak saat itu sering terjadi percekcokan di antara keduanya, sampai pelaku Thamrin mengetahui bahwa Ida memiliki hubungan khusus dengan korban Anwar.
Emosi Pelaku memuncak, pada hari Jum'at (25/6/2021) sekitar pukul 01.00 Wita, pelaku mendatangi rumah Ida dan hendak membakarnya.
Pagi harinya Thamrin berniat membunuh Anwar. Kemudian Pelaku pergi ke pasar Yamaker, Nunukan untuk membeli sebilah parang yang digunakan membunuh korban.
"Berita seperti ini perlu diketahui oleh masyarakat agar tidak berlaku bodoh atau hanya sekadar mengkedepankan emosi karena setiap perbuatan kriminal pasti mendapat hukuman," kata Kapolres Nunukan AKBP Syaiful Anwar di Nunukan, Jumat.
"Korban yang dibunuh adalah karyawan Agen Penyalur Minyak Solar (APMS) Cahaya Makarano bernama Anwar," kata Kapolres.
Kapolres didampingi Kasubag Humas Polres Nunukan, Iptu M Karyadi menuturkan pada saat kejadian, korban Anwar sedang berada di APMS tempatnya bekerja bersama dengan saksi Ida, Alex, Hamka, dan Gafar.
(fen/sumber cerita: antaranews.com) **
Rabu, 23 Juni 2021
CERITA TUNTUNAN: Ibadah Tukang Sol Sepatu Kalahkan Haji Ratusan Ribu Orang
POS-cerita.blogspot.com.- Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji, ia tertidur di Masjidilharam. Di dalam tidurnya, ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit, kemudian yang satu berkata kepada yang lain, "Berapa banyak orang yang berhaji pada tahun ini?". "Enam ratus ribu," jawab yang lain.
Lalu, ia bertanya lagi, "Berapa banyak yang diterima?" Jawabnya, "Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq. Dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun itu diterima dengan berkat hajinya Muwaffaq."
Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat menuju Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq. Ketika bertemu dengan Muwaffaq, Abdullah bin Mubarak menceritakan mimpinya dan bertanya, "Kebaikan apakah yang telah Engkau lakukan sehingga mencapai derajat yang sedemikian itu?"
Jawab Muwaffaq, "Tadinya aku ingin berhaji, tapi tidak terlaksana karena ke adaanku, tetapi mendadak aku mendapat uang tiga ratus dirham dari pekerjaanku membuat dan menambal sepatu, lalu aku berniat haji pada tahun ini. Pada saat itu istriku sedang hamil maka suatu hari, dia mencium bau makanan dari rumah tetanggaku dan ingin mencicipi makanan itu. Aku pun pergi ke rumah tetanggaku dan menyampaikan tujuanku kepadanya."
Tetanggaku kemudian menjelaskan, "Aku terpaksa membuka rahasiaku, sebenarnya anak-anakku sudah tiga hari tanpa makanan, karena itu aku keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba menemukan bangkai himar di suatu tempat, lalu aku potong bagian tubuhnya dan aku bawa pulang untuk dimasak. Adapun makanan ini halal bagi kami dan haram untukmu."
Ketika aku mendengar jawaban itu, aku segera kembali ke rumah dan meng ambil uang tiga ratus dírham, dan kuserahkan kepada tetanggaku tadi seraya menyuruhnya agar membelanjakan uang itu untuk keperluan anak-anak yatim, yang ada dalam pemeliharaannya itu.
"Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku," ujar Muwaffaq menutup kisahnya. Allahu Akbar. (Irsyadul 'Ibad ila Sabilir Rasyad karya Syekh Zainuddin ibn Abdul Aziz al-Malibari).
Kisah di atas memberikan pelajaran berharga kepada kita, kaum muslim bahwa sesungguhnya haji adalah amalan yang utama.
Berjihad juga amalan utama, tetapi menyantuni anak yatim, orang miskin, dan orang telantar merupakan amalan yang lebih utama dan mulia.
Beribadah haji itu untuk kepentingan pribadi, sedangkan menyantuni anak yatim dan memberikan makan kepada fakir miskin, menjadi ibadah sosial yang manfaatnya itu lebih besar.
Meskipun belum berangkat haji, hal itu menyebabkan mabrurnya semua amalan ibadah lainnya.
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS Ali Imran 92).
Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa membantu keperluan saudaranya maka Allah akan membantu keperluannya." (Muttafaq 'alaih).
(fen/sumber: ihram.co.id) **
Senin, 14 Juni 2021
CERITA dari JAKARTA: Preman Paling Ditakuti dan Dua Jagoan Penguasa Pelabuhan Tanjungpriok
Ilustrasi/dok. sindonews/ist.
POS-cerita.blogspot.com.- Premanisme di kawasan Tanjungpriok langsung disikat polisi pasca kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke
Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT)
dan Terminal Peti Kemas Koja, Jakarta Utara, Kamis (10/6/2021).
Tak hanya di Tanjungpriok, atas perintah Kapolri, polisi langsung melakukan operasi preman besar-besaran di berbagai wilayah di Tanah Air.
Aksi premanisme di Jakarta sejatinya sudah ada sejak zaman Belanda. Bedanya, saat zaman penjajahan para preman beraksi dengan merampok warga keturunan Belanda dan Tionghoa untuk kemudian hasilnya diberikan kepada masyarakat miskin.
Pada zaman penjajahan Kolonial Belanda, terdapat beberapa preman yang terkenal dan ditakuti warga keturunan Belanda dan Tionghoa. Mereka tidak segan-segan melukai korbannya. Pada pertengahan akhir abad 19, masyarakat Batavia mengenal Muhammad Arif alias Haji Darip yang menguasai Klender, Pulogadung, Jatinegara, hingga Bekasi.
Sepak terjang kelompok Darip ini sudah kesohor sehingga pemerintahan Hindia Belanda mengiming-imingi hadiah kepada masyarakat yang bisa memberi tahu keberadaan Darip.
Dahulu target operasi yang dilakukan kelompok Darip bersifat patriotisme dan perampokan. Kelompok ini sangat selektif mengincar target operasi. Biasanya mereka mengincar orang-orang berkulit terang, seperti China dan warga keturunan Belanda.
Pertengahan abad 19 sebenarnya ada juga beberapa preman yang kesohor. Mereka adalah si Conat yang biasa berbuat kejahatan di kawasan Kebayoranlama hingga Tangerang.
Sedangkan di kawasan pantai Utara, ada preman bernama Angkri yang menguasai kawasan Marunda, Tanjungpriok, dan Ancol. Keduanya sama-sama merampok untuk diberikan ke warga miskin.
Sepak terjang Angkri hampir sama dengan si Pitung yang sudah melegenda di Marunda. Kendati begitu belum ada catatan yang mengaitkan kedua orang ini.
Pasca kemerdekaan Indonesia, Jakarta yang menjadi Ibu Kota Negara memasuki zaman yang rawan dengan kekerasan dan tindak kriminal.
Sebagian besar pelakunya merupakan eks pejuang laskar yang kehilangan pekerjaan karena revolusi telah usai. Mereka yang tidak terakomodasi dalam institusi resmi militer memilih “dunia kekerasan” untuk menyambung hidup.
Daerah-daerah ekonomi seperti Senen, Meester Cornelis, Tanahabang, dan Tanjungpriok, menjadi tempat menyandarkan kebutuhan hidup. Mereka menjajakan diri sebagai penjaga keamanan, centeng alias jagoan.
Daerah-daerah ekonomi itu menjadi lahan perebutan kekuasaan, baik antarindividu maupun antarorganisasi pengelola keamanan. Hal ini yang menjadi penyebab utama daerah tersebut dinamakan oleh masyarakat umum waktu itu sebagai daerah onderwereld (dunia hitam) yang dianggap seram dan menakutkan.
Tanjungpriok sebagai pelabuhan utama Kota Jakarta menjadi salah satu lumbung ekonomi yang dipenuhi para jagoan. Mereka berangkat dari berbagai macam latar belakang etnis.
Secara umum tidak ada penguasa tunggal dari latar belakang etnis dalam dunia kekerasan di kota Jakarta.
Dikutip dari situs sejarahjakarta.com, dua etnis yang pernah eksis dalam percaturan onderwereld di Jakarta Utara atau di Pelabuhan Tanjungpriok dan sekitarnya adalah etnis Bugis dan Banten.
Salah satu nama jagoan yang legendaris sebagai penguasa Pelabuhan Tanjungpriok hingga akhir tahun 50-an adalah Lagoa, tokoh masyarakat Bugis yang bernama asli Labuang De Passore. Selain sebagai tokoh masyarakat, Lagoa juga dikenal sebagai seorang jago yang merangkap menjadi mandor pelabuhan.
Para buruh menganggap mandor sebagai tokoh jago yang dituakan. Bahkan dianggap sebagai pemimpin dari kalangan etnisnya. Hal ini pula yang dialami Lagoa sewaktu menjadi Mandor Pelabuhan Tanjungpriok.
Tidak hanya di kalangan etnis Bugis-Makassar, Lagoa juga dipandang sebagai tokoh masyarakat yang punya kharisma oleh etnis lain yang ada di seputar Pelabuhan Tanjungpriok.
Di Pelabuhan Tanjungpriok juga terdapat tokoh lain berasal dari etnis Banten yang berprofesi sebagai mandor, yaitu Haji Tjitra yang bernama lengkap Haji Tjitra bin Kidang. Namanya sudah kondang sebagai penguasa penguasa Pelabuhan Tanjungpriok sejak akhir tahun 1920-an yang direbutnya melalui pertarungan sengit dengan jago yang juga berasal dari Banten.
Kedatangan Lagoa di Pelabuhan Tanjungpriok sedikit banyak mengusik “pendaringan” Haji Tjitra bin Kidang. Sebab itu perseteruan kedua tokoh ini legendaris di Pelabuhan Tanjungpriok.
Kerap kerusuhan terjadi di Pelabuhan Tanjungpriok karena perebutan kekuasaan dari dua mandor berbeda etnis ini, tidak sekali dua kali mengakibatkan korban nyawa yang menghiasi berita di koran-koran Ibu Kota kala itu.
Cerita kedua tokoh Mandor Pelabuhan Tanjungpriok dari berbeda etnis ini meski diawali dengan perseteruan, namun berakhir dengan harmonis. Keduanya mampu menjadi tokoh perdamaian peredam konflik yang pernah terjadi di antara etnis Bugis-Makassar dan Banten, bahkan dengan komunitas etnis lainnya.
Puncak kedamaian ditandai dengan diangkatnya Lagoa menjadi menantu oleh Haji Tjitra bin Kidang sebagai wujud perdamaian dan persaudaraan antara etnis Banten dan Bugis-Makassar di Tanjungpriok.
Pelabuhan Tanjungpriok sebagai daerah dengan penuh kekerasan terus berlanjut sepeninggal mereka berdua, bahkan meluas hingga ke luar daerah pelabuhan.
Hingga di pertengahan tahun 60-an terjadi konflik besar yang memakan banyak korban jiwa antar beberapa etnis penguasa daerah kekerasan di Tanjungpriok.
Bahkan sampai harus melibatkan pejabat tinggi militer yang juga tokoh masyarakat Bugis saat itu, Brigjend. TNI Andi Muhammad Jusuf Amir dan Kol TNI Ahmad Daeng Setoedjoe untuk mendamaikan.
Sampai kini, Tanjungpriok masih dikenal sebagai "daerah keras" meski tidak lagi sekeras dulu. (@fen/sumber: sindonews.com) **
CERITANYA ARTIS: Kang Tata, Béntol (3)
JRENG, jreng, jreng gitar dipetik. Lagu yang punya judul "Béntol" siap dikumandangkan di hadapan publik tingkat RW ketika diselenggarakan malam hiburan Agustusan.
Penonton bersukaria, melontarkan yel-yel histeris yang membuat Kang Tata Takwa terasa miris, meringis, bercampur muriang panas tiris.
Tapi tekadnya begitu kuat untuk mempublikasikan lagu "Béntol"-nya, lebih jauhnya siapa tahu ada produser rekaman yang nyasar, kelak dapat mengajak Kang Tata Takwa untuk rekaman.
Maka di panggung Agustusan itu, senandung "Béntol" pun dinyanyikan Kang Tata dengan amat menjiwai.
"Béntoool...duh asyiknya punya béntol
menyendol segede jéngkol
kalau punya béntol jangan ditakol
biarkanlah asyik menjendol
Ooooh.....béntol
Anak muda, lebih baik garuk béntol
ketimbang nenggak alkohol
Néng Asih perawan bahénol
perutnya dumadak béntol
kenak tembak.....konciiiii......!"
"Hidup Kang Tata Takwa Béntol, hiduuuup.....!"
Yel-yel penonton kian bergema. Tak ketulungan lagi. Saking antusiasnya aplus penonton, beberapa lemparan botol bertubi-tubi menghunjam muka Kang Tata.
Suasana makin kisruh. Pertunjukan pun akhirnya dihentikan karena muka Kang Tata sudah bénjol. Petugas keamanan gasik menolong. Kang Tata dibopong hansip. Dalam keadaan setengah sadar, Kang Tata Takwa ngaharéwos ka hansip.
"Daripada jadi artis penyanyi dengan risiko muka bénjol, mending jadi tukang céndol!" (habis/tulisan ini telah dimuat di HU Galamedia dalam rubrik Galaria/Sketsa Artis, edisi Minggu, 16 September 1990) **
CERITANYA ARTIS: Kang Tata, Béntol (2)
SAKING gedenya cita-cita Kang Tata untuk jadi penyanyi kondang, dalam angen-angennya tercanang kebulatan tekad yang takkan dibenjolkan lagi.
Ia ingin seperti idolanya Iwan Fales, malah ingin mengunggulinya sehingga di negeri yang masyarakatnya tengah gandrung yang sarwa aheng, sarwa demam modernisasi ini, hanya Kang Tata sendirilah yang harus unggul.
Makanya, tak heran kalau detik demi detik, menit demi menit, Kang Tata begitu anteng dengan gitarnya layaknya sebagai bini.
Kalau Iwan Fales kesohor dengan lagunya "Mata Dewa", "Bento", dan "Kantata Taqwa", Kang Tata pun tak cicingeun. Ia sibuk berkreasi, mencipta lagu dengan napas religius macam "Kantata Taqwa"-nya Iwan Fales.
Tak aneh lagi kalau Kang Tata menambah namanya yang pendek sedikit rada panjang, yakni jadi Kang Tata Takwa. Dan cap itu mujarab juga untuk menarik sumbangan dari para dermawan, baik yang rela maupun yang terpaksa karena watir melihat Kang Tata berngamenria.
Lalu, demi menyimak Iwan Fales yang sukses dengan lagu "Bento", Kang Tata Takwa pun tak mau eleh geleng, meski tak berati lantas ia ngajolopong di rel KA untuk dilindas KA.
Mujur, inspirasi lagu pun datang ketika dia sedang ngendon di WC. Ya, tiba-tiba pantatnya yang sedang ngaheujeun digigit nyamuk atah adol sehingga kulitnya mendadak menjendol alias bentol.
"Horeeeee....dewek dapat ide!" teriaknya.
Saat itu juga dia langsuung memburu kamarnya, tak peduli sang pantat yang masih rametek. Itu karena ia saking bungah mendapat inspirasi lagu anyarnya yang berjudul "Bentol". (bersambung) **
Kamis, 10 Juni 2021
CERITANYA ARTIS: Kang Tata, Béntol (1)
NAMANYA pendek, sependek ujud tubuhnya, hanya satu kata empat hurup, T A T A. Akan tetapi, biarpun namanya pendek, cita-ctanya mah sepanjang jalan harapan.
Dia senang kalau dipanggil Akang atau Kang. Lalu konco-konco dan penggemarnya atau zaman now mah disebut fans cenah, memanggil dia dengan sebutan Kang Tata.
Sehari-harinya si Akang kita ini bergelut dengan dunia tarik urat lehernya sendiri. Bukan untuk bunuh diri, tapi untuk bernyanyi ria!
Adapun jalur musik yang didebutinya sungguh merakyat, yaki jalur bus kota dari segala jurusan. Bisa jalur Caheum - Cibeureum, Panjang - Caheum, Panjang - Gado, eh Dago, dst.
Ya, si Akang kita ini merintis dunia nyanyi sebagai pengamen jalanan pada jalur bus kota. Suaranya fales, persis kaboganya Iwan Fals --penyanyi kondang yang digandrungi kawula muda negeri dewek.
Nah si Akang kita ini pun termasuk penggemar kelas bulu, eh kelas berat Iwan Fals.
Kefalesan suara Kang Tata, memang lain dengan Iwan. Kalau Iwan bisa jadi sebutan falsnya hanya "trade merek" karena toh senandungnya piduiteun, tapi kefalesan tokoh kita ini nyaris mengkoitkannya.
Konon menurut catatan entah punya siapa, waktu kecil si Kang Tata ini doyan memainkan stoples, lalu iseng dikolomoh. Sial stoples tertelan dan megil di tenggorokannya. Tapi mujur masih bisa dimuntahkan dengan cara diketig punduknya oleh peureup ayahnya. Sayang, suaranya jadi berubah fales.
Namun belakangan dia bersyukur karena dengan suaranya yang fales itu, kini dapat menerima sumbangan dari tangan-tangan dermawan jalanan entah itu cepe entah gocap (sekarang mah mungkin seribu dua ribu perak). Yang pasti, dengan uang sumbangan itu Kang Tata bisa memanjangkan hobinya nyeungeut udud di bibirnya alias merokok. (bersambung) **
Langganan:
Postingan (Atom)
CARNYAM SARWA "A", Gara-gara Randa Anyar (5) Nyacampah Garwa
Foto: kreasi Dola AI "Haaaar.....naha kalah ngabarakatak?" "Nya ngabarakatak Bah, masa Abah-abah ngajakan garwaan...
-
SABADA sasalaman Mang Sana dan Aah marapah mapay jalan kalayan manah taya kahamham. Mang Sana sapaparat jalan ngabayang-bayang b...
-
Raray Aah katara marahmay basa nampanan alat pamayar pamahanan Tarman. "Jam sabaraha Aa datang ka papan Aah?" "Pa...
-
"NYA, Mang Sana." "Ah?" kata Mang Sana basa Aah maksad mapah. "Ada apa Mang?" "Mamang aya mak...
