Iklan 8

Jumat, 28 Juni 2024

Carita S É N

KECAP 'sén' dina basa Sunda bawirasa nyoko kana duit nu kiwari haregana geus ngahiang alias geus tara diparaké deui.

Tapi lamun kecap sén dikantétkeun jeung 'dok' nya jangélék jadi séndok, siga dina poto  kuring keur nyepengan séndok nalika dijajanan baso ku si cikal di lemburna, anyar-anyar ieu.

Lain ukur 'sén' jeung 'dok' nu dikawikeun téh, loba deui kecap séjénna, siga sén+ti = sénti. Ku+sén= Kusén (ngaran jelema) jeung kusén, kai nu dijieun keur ngalengkepan imah boh panto boh jandéla.

Aya deui pere jeung sén = peresén.

Aya carita ngeunaan peresén téh nyaéta basa Jang Kusén dihiras ku Pa Haji Hasan, terus ditanya ku Mang Dana.

"Diperesén naon ku Pa Haji dihiras téh, Sén?"

"Wah teu diperesén nanaon, Mang. Teu sasén-sén acan. Hanas mani giak da sugan téh rék diperesén anakna."

"Néng Sény?"

"Enya."

"Hahaaa.....tong ngimpi hayang meunangkeun Néng Sény ilaing mah Sén. Néng Sény mah  geus dicirian Ku Dén Sénsén nu sapopoéna jadi dosén."

Jang Kusén bati ngaheruk. ***

Jumat, 31 Desember 2021

AKU dalam CERITA: Terkuak dari Buku Harian

AKHIR tahun 1993, aku berangkat dari kampung halamanku, Kota Tauco Cianjur menuju Kota Kembang Bandung untuk mencari pekerjaan. Barangkali selembar ijazah yang kumiliki bisa mengantarku meraup rezeki.
Mujur, bukan hanya pekerjaan dan penghasilan yang diperoleh meski hanya sebagai buruh pabrik dan pramuniaga, tetapi kuperoleh pula mojang Bandung. Setelah berpacaran sampai kebablasan dan dia minta dipersunting, eh tiba-iba harus putus. Ternyata, aku hanya dijadikan ban serep. Berkat bantuan keponakanku yang berada di Bandung, aku bekerja di sebuah pabrik sebagai teknisi mesin. Pada masa percobaan aku sudah tak betah. Maklum jiwa mudaku masih labil, aku pun mencari pekerjaan lain. Melalui iklan di sebuah harian aku mencoba melamar dan diterima sebagai pramuniaga di sebuah pasar swalayan. Lingkungan kerja di sini terasa lebih baik, penuh suka, terutama bisa cuci mata. Saat itu darah mudaku tengah bergelora, apalagi melihat mojang-mojang Bandung yang gareulis. Karena terhibur dengan suasana kerja yang nyaman, tak terasa aku sudah 2 tahun bekerja di sini. Kurasa sudah waktunya aku punya calon istri kelak. Kuingat pesan orangtua, "Moal aya nu beunghar bubujangan" alias takkan ada orang kaya karena membujang. Suatu saat ada karyawati baru sebagai tenaga pemasaran atau istilah kerennya sales promotion girl, aku mulai cunihin. Orang Cianjur bilang ngetrek. Meski belum berpengalaman, tapi soal rayu-merayu aku tak kesulitan. Soalnya sikap dan sifatku suka humor dan bercanda. Tai kuku ngagoda perempuan mah! BENAR juga dalam waktu sekejap aku sudah akrab bahkan langsung lengket kayak perangko. Tampaknya dia pun menyambut, "batu turun keusik naek, itu purun kuring daek" alias suka sama suka. Mulailah dirancang strategi bagaimana agar bisa pacaran lebih asyik lagi. Kebetulan hari libur itu bergiliran mulai Senin sampai Jumat. Kami sepakat memilih hari Rabu untuk libur biar punya kesempatan luas. Aku benar-benar merasa sebagai Romi meski namaku Fudin dan kekasihku sebagai Yuli meski nama aslinya Yati. Suatu hari Yati mengundangku datang ke rumahnya di sekitaran Jalan Pajajaran Bandung. Tentu saja aku gembira. Ini menunjukkan keseriusan cintanya padaku. Kupenuhi undangannya meski semula aku ragu, maklum untuk pertama kalinya. Siapa tahu calon mertuaku galak atau tidak menyetujui punya menantu orang kampung sepertiku. Akan tetapi ternyata di rumah Yati cuma dia sendiri. Kata Yati, ayahnya sedang pergi ke kantor, adiknya sedang bersekolah, sedangkan ibunya lagi ke undangan. Terang saja aku berteriak dalam hati, "Bebas euy!" "Din jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri yah! Mau nonton TV, mau main sega, mangga!" tutur Yati sambil ngeloyor ke kamar mandi, katanya mau mandi. Aku diam saja, belum berani bertingkah. Tak lama kemudian Yati menyodorkan minuman. "Sok dileueut," tawar Yati, dibumbui senyuman renyah. "Minuman apa nih Yat?" Aku pura-pura tak tahu. "Racun, kan kamu tadi bilang apa saja," candanya sambil lari menjauh. "Gila kamu, awas yah!" timpalku sambil bangun dari tempat duduk lalu mengejar kekasihku yang ternyata lari ke kamar tamu. Dari belakang kutangkap tubuhnya yang belum berpakaian lengkap. Semula aku menangkap dia cuma main-main. Tetapi dekapanku malah disambut pelukannya yang hangat. Aku terkejut, bagaimanapun ini tak boleh terjadi. CINTA sih cinta, tapi bercumbu rayu sampai kebablasan jelas terlarang, aku sadar itu. Sontak aku menjauhi Yati, membetulkan bajuku yang kusut bekas mendekapnya. Akan tetapi malah dia mengejar lalu mendekapku kuat-kuat. "Sekwilda"-nya mulai terbuka, desah napasnya kencang. Setebal-tebalnya imanku pada saat muda, akhirnya luluh juga. Tak ayal pertarungan ronde kedua pun berlangsung. Kalau ronde pertama cuma main-main, kini ngelayap ke lembah terlarang. Andai saja saat itu bel rumah tak berbunyi, mungkin keperjakaanku sudah jebol. Segeralah permainan terlarang itu kami akhiri. Aku memburu permainan sega, sedangkan Yati pura-pura mencuci piring. Aman. Yang datang itu ternyata ibunya Yati. Saat itu pula aku diperkenalkan oleh Yati kepada ibunya yang tampak ramah sehingga niatku untuk langsung pamitan diurungkan. Setelah kejadian pertama di rumah Yati, aku merasa berdosa. Aku berharap hanya itulah yang terjadi toh nanti juga kalau sudah menikah bisa leluasa. Namun, kenyataannya lain. Suatu hari ketika aku tiduran pada hari libur di rumah kontrakan sekitar pukul 09.00 WIB, tiba-tiba tubuhku terasa ada beban. Tercium wangi. Ketika kulihat, ya ampun...Yati. Aku kaget. Dia malah tersenyum manis. Aku bangkit dan permisi untuk mandi. Usai mandi, bagaikan kucing melihat tikus, tiba-tiba Yati menarik lenganku yang saat itu cuma mengenakan handuk dan CD segitiga pengaman. Aku digusur ke atas kasur, lalu...astagfirullah terjadilah peristitwa memalukan. Keperjakaanku saat itu benar-benar jebol belum waktunya. Ironisnya, Yati pun menangis. Entah tangis sedih karena kegadisannya hilang atau sebaliknya gembira dapat menaklukkanku. DASAR kami sudah dirasuki setan, permainan tabu dan terlarang itu masih berlanjut pada setiap ada kesempatan baik di rumah kontrakan maupun di rumah Yati. Lama kelamaan mungkin Yati takut terjadi apa-apa, ia memintaku untuk bertunangan secara resmi ke orangtuanya. Waktu itu tahun 1995. Aku tak keberatan. Merasa Yati telah resmi menjadi calon istriku, aku tak ragu-ragu mengajaknya ke kampung halamanku di Cianjur. Saat itu menjelang tahun 1996. Di perjalanan tak terduga Yati nyeletuk, "Din Yati mah embung dua kali deui ka dieu teh," katanya. Keruan aku terkejut. Ketika kutanyakan apa alasannya, Yati cuma bilang karena terlalu jauh. Di rumahku, aku bersikap layaknya suami istri dan tidur sekamar. Orangtuaku menerima Yati apa adanya, bahkan saat itu kami merencanakan pernikahan pada bulan Agustus 1996. Sepulang dari kampungku itulah Yati tampak lain dari biasanya. Aku mulai curiga terhadap perkataannya. Ketika didekati untuk bermesraan, kini dia malah menghindar. Suatu hari aku sakit (tipes), ternyata Yati masih menyayangiku. Dibawanya aku ke rumahnya, bahkan ketika Yati bekerja, ibunyalah yang merawatku. Tapi aku masih curiga. Suatu saat aku membuka kasur yang biasa ditiduri Yati di kamarnya dan kudapatkan catatan buku harian. Kubaca satu per satu isinya. Kudapati dalam catatan itu Yati menulis bahwa dia sudah punya pacar teman sekolahnya yang telah pergi selama dua tahun. Selama kepergian pacarnya itulah Yati melepaskan kerinduannya padaku. Kini, pacarnya telah kembali, pantas kalau aku mulai dijauhi. Artinya selama ini aku hanya dijadikan ban serep, pacar cadangan, atau cinta pelarian. Aku pun akhirnya mundur teratur, dilanjutkan juga takkan benar, apalagi sudah diketahui motif Yati selama ini mendekatiku. Selepas dari Yati aku pun menjalin kasih dengan wanita lain. Alhamdulillah berjodoh bahkan hingga dikaruniai keturunan. Sembari menjalani rumah tangga, rasa sesal telah berbuat dosa dengan Yati selalu menghantui benakku karena ketika aku mau menikah mengaku masih bujangan, padahal... "Ya Allah semoga Engkau mengampuni segala dosaku." (habis/tulisan ini telah turun di HU Galamedia dalam rubrik Kisah edisi 16 Maret 2001) **

Kamis, 18 November 2021

CERITA NIRINA ZUBIR: Sakit Hati dan Gemeteran Ketemu ART yang Rampas Aset Ibunya

Nirina Zubir, saat dihadirkan oleh Polda Metro Jaya, Kamis (18/11/2021)./suara.com/evi ariska/ist. AKTRIS Niriza Zubir tampak emosional saat bertemu Riri Khasmita, mantan ART ibunya yang telah diam-diam mengubah kepemilikan tanah keluarganya. Mereka bertemu saat Riri dihadirkan sebagai tersangka dalam rilis kasus mafia tanah di Polda Metro Jaya. Nirina tak dapat menahan emosinya lantaran Riri dan suami yang juga jadi tersangka masih berani menatap sinis padanya dengan tangan diborgol. "Sampai sekarang tangan saya masih bergetar karena sakit hati," kata Nirina di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (18/11/2021), dilansir Suara.com. Riri dan suami rupanya tak hanya mengambil aset sang ibunda. ART kepercayaan ibunya itu juga meminjam uang sejumlah Rp 250 juta hanya dengan kuitansi tertulis. Hal itu baru diketahui bintang film Heart ini dari cacatan harian almarhumah ibunya. "Dipinjam Riri 250 juta juga hanya dengan kuitansi (biasa/nonformal). Nanti saya akan sebarkan juga di Instagram beberapa kata-kata ibu saya ditulis di nota, dia pinjam uang berapa dijanjikan kembali, dia sudah ngambil segini seberapa macem," katanya. Niriza Zubir tak abis pikir Riri memenfaatkan ibunya setelah diperlakukan sangat baik dan diberi kepercayaan penuh. "Jadi kok lu tega sih, ibu saya udah ngasih kehidupan yang baik, memperbaiki kehidupan lu ternyata timbal baliknya seperti ini. Tadi nggak kuat, sampai sekarang saya menyebut namanya aja masih berat dan penuh dengan amarah," ujarnya. Kasus mafia tanah ini berawal saat almarhumah ibunda Nirina Zubir mengira surat-surat tanah miliknya hilang. Dia kemudian menyuruh ART-nya, Riri Khasmita untuk mengurusnya. Mendapat kepercayaan itu, Riri malah tak amanah. Dia justru diam-diam mengubah kepemilikan enam aset menjadi atas namanya dan sang suami. Selain dengan suami, Riri juga dibantu notaris dan PPAT dalam melakukan aksinya itu. Kasus ini sudah ditangani penyidik Polda Metro Jaya. Ada lima tersangka, tiga di antaranya ditahan. (fen) **

Kamis, 29 Juli 2021

Carita Sunda: Nu Galécok dina Témbok

Foto ilustrasi/mangle Rékacipta Féndy Sy. Citrawarga CAKDEUNG (cakcak hideung) nganjang ka imah gedong sigrong, dibawa ku si Cakdas (cakcak bodas). Teuing ku nanahaon si Cakdeung kalah olohok, kawas hayam panyambungan. Meureun barieukeun duméh réa tetempoan ararahéng. Tuman nguprek ulukutek di imah panggung nu sarwa walurat. "Ambuing-ambuing, karaton wé sugan ieu mah. Paingan manéh mani betah," si Cakdeung muka wangkongan. Duanana tingdaraplok dina témbok. "Betahna mah betah da puguh enya loba tetempoan nu arahéng. Tapi lebah hakaneun mah jugala kénéh ilaing Deung euy!" témbal si Cakdas semu ngahelas. "Anéh bin kagét binti hémeng déwék mah piraku deui di imah sakieu agréngna manéh kurang hakaneun?" "Nya ari keur nu bog imah mah puguh wé jugala, carék paribasana lubak-lbuk réa lobak teu kalebok! Da puguh heueuh harta banda ceuyah bru di juru bro di panto ngalayah di tengah imah! Keur sayah mah angger wé ripuh lur!" "Teu percaya aing mah!" "Tempo wé ku di dinya na aya ramat? Na aya rametuk? Na aya reungit? Lebeng! Sakieu sarareungitna da diberesihan unggal usik!" si Cakdas ngajéntrékeun. "Heueuh nya! Tapi naha atuh manéh mani betah bumén-bumén jeung bisa hirup batan sakieu waluratna?" ** "IH ari sual rejeki mah Deung euy teu weléh aya sok asal urang daék ihtiar. Ulah éléh ku hayam najan ku dunungan nu ngukutna geus diancoan parab ih keukeuh wé hayang ngencar bari teu burug kokoréh taya reureuhna," ceuk si Cakdas, bari pok deui neruskeun cumarita. "Angot urang teu disayagian parab da lain sato ingon-ingon nu boga imah, nyiar kasab téh kudu enya-enya toh pati jiwa raga. Nya berekah najan di unggal lalangit gedong sigrong ieu taya kadaharan déwék, ari leukeun kurutuk-karatak ka parana mah kadaharan déwék téh aya da geuningan gedong sigrong gé ari parana mah sarua wé jeung imah basajan séjénna tara pirajeunan di beresihan." "Heueuh nya adil Gusti mah. Nyipta mahluk hirup dibarengan jeung rejekina téh da jeung saenyana. Karasa ku urang-urang. Dipikir mah urang leuwih untung batan jelema nya, Das?" "Untung lebah manana, Deung?" "Heueuh geuning mindeng kabéjakeun jelema mah loba nu baroga hutang alatan réa pangabutuh! Geuning nepi ka aya kacapangan hutang salaput hulu. Ari urang-urang? Sabalangsak-balangsakna gé, berekah tara kabéjakeun baroga hutang boh leutikna boh gedéna! Ari jelema mah tong boro kasebutna rahayat nu malarat rosa dalah nagara gé kabéjakeun loba hutang ka ditu ka deu. Bayareun anak incu manusa, bari dina emprona mah duit meunang uclak- éclok téh tepi ka rahayat mah ukur satai kuku gé biheung da gegedéna mah cenah ku mangkeluk nu ngaran koruptor! Rahayat mah angger réa nu balangsak katalangsara!" ceuk si Cakdeung. ** "GEUNING étah ilaing paséhat kana urusan pulitik, Deung?" "Ih, hideung-hideung gé uing mah tara tinggaleun lalajo TV ngadéngékeun wartos-wartos nu parenting, manasina ilaing lalajo TV téh kana sinétron wungkul!" "Heueuh alus, kudu reformasi, ulah katinggaleun ku jelema ari jadi cakcak!" "Cakdeung téaaa...!" si Cakdeung beukah irungna dipuji téh. "Bener pisan omongan ilaing téh Deung! Uing sok ngabandungan nu boga imah agréng ieu, tétéla geuning gedong sigrong téh ladang anjuk hutang. Anéhna téh sok luhlah waé nyebut réa kakurangan itu kakurangan ieu!" si Cakdas comél. "Kutan téh?" si Cakdeung kekecrék. "Kalah awéwéna mindeng ngalamun, hulang-huleng tapi bari gumeulis da cenah kasepian mindeng ditinggalkeun ku salakina nu teu weléh dudunya, nepi ka dug hulu pet nyawa. Nya antukna mah awéwéna téh sok salingkuh!" si Cakdas beuki célémbéng, nguar-nguar rusiah pribadi nu boga imah. "Naon salingkuh téh Das?" "Ih kuper geuning ilaing mah Deung? Ngaku wé monitor satia warta berita TV, tapi teu nyaho salingkuh-salingkuh acan! Ari salingkuh téh salaki atawa pamajikan bobogohan deui jeung nu séjén. Siga awéwé nu boga imah ieu, manéhna téh disebut pamajikan da geus dikawin ku saruang lalaki. Ceuk hukum agama, samangsa-mangsa geus katalian tikah teu meunang nyolowédor alias salingkuh jeung nu séjén. Nu kitu téh heueuh salingkuh téa, hukumna haram, dicaram ku Gusti!" si Cakdas norowélang tablég. ** "JADI lamun hayang sapatemon téh jelema mah kudu kawin heula nyah?" "Enya kudu kawin atawa nikah heula, kakara sah!" "Heueuh apan ari urang-urang mah lamun hayang kikituan téh ka saha wé asal 3 S, lin?" "Naon tilu S téh?" si Cakdas giliran ngabigeu. "Sarua geuning manéh gé kapur, éh kuper! Bisi teu nyaho tilu S téh hartina suka sama suka, moal jadi urusan siga jelema nu kaperego keur salingkuh digerebeg hansip." "Enya kitu! Tah...lampah urang-urang siga kitu téh ditarurutan ku jelema. Maksud téh heueuh sapatemon sakarepna teu inget kana papagon halal-haram ceuk agama. Malah cenah mah geus ngabudaya, lain waé kolot, barudak ogé loba nu tigebrus kana dunya peteng kitu téh!" si Cakdas hatam pisan kana urusan kikituan téh bubuhan mindeng nempo di imah sigrong nu dicicinganana. "Asa teu percaya uing mah Das euy ari jelema geus beunghar kieu masih kénéh mangnyéléwéngkeun mah!" si Cakdeung cangcaya. "Hih, manéh mah! Bisi teu percaya yu urang asup ka kamar nu itu. Di jerona aya nu keur salingkuh, enya awéwé nu boga imah ieu jeung lalaki kasép ngora kénéh!" "Ah si kasebelan, ngajak ngintip nya? Embung ah!" Si Cakdeung api-api soléh padahal banget panasaran hayang nyaho. "Cenah tadi manéh teu percaya! Bisi hayang ngabuktikeun wé uing mah lain ngajak ngintip. Barina gé urang-urang mah teu kudu tuang-toong untap-intip nu keur kikituan bari bujur kokompodan sieun kaperego da masing ngilu ngarayap dina kasur ogé moal dianggap ieuh." ** "Heueuh bener. Jelema téh percayana, sieunna, ku jelema deui. Disangkana mahluk-mahluk séjén mah taya harti. Heueuh jelema nu ceuk ilaing salingkuh téa pangrasana téh aman wé caricing di jero kamar paduduaan téh teu éra- éraeun ku urang-urang. Teu saladar kana paningal Gusti nu teu aya hahalang!" "Enya kitu pisan Deung! Alatan iman ka Gusti dimomorékeun, réa jelema nu lalampahanana siga urang, siga sato. Ari sabangsa urang mah aya pantesna rék kitu rék kieu gé da teu kauger aturan Gusti nyatana agama. Urang-urang mah teu kagolongkeun mahluk mulya siga jelema. Nu matak di bangsa urang mah taya basa éra, euweuh kasieun, rék sapatemon jeung sasaha gé najan jeung indung atawa anak pisan moal aya matakna deuih. Tapi jelema nu taya kaéra taya kasieun ku bebendon Gusti, ngalajur napsu ngumbar sahwat, rucah, tina laku teu eucreug kituna téh baris ngundeur kagoréngan. Keur dirina baris numpurkeun kamulyaan jeung bakal ngancurkeun turunanana. Nu pasti mah bakal jadi suluh naraka jaga di ahérat lamun teu buru-buru tobat!" "Iy.....amit-amit sararieun," si Cakdeung ngabirigidig. "Ku naon manéh Deung ngabirigidig kitu?" "Éta sieun ngadéngé jelema doroka dijieun suluh naraka, tada teuing génghékna." "Emh, mun jelema nu boga kasieun kitu téh meureun dunya aman." "Enya kuduna mah uing jadi jelema." "Si, nanaon téh. Ari jadi mahlluk ulah sok nampik kana takdir mungpang kana kadar, pamali. Mending hayu ah urang ngabuktikeun nu keur salingkuh téa. Tuturkeun uing!" si Cakdas ngajak sobatna, laju muru kamar nu di jerona aya dua insan lalaki jeung awéwé keur guley nyacapkeun kasono. Sup dua cakcak cunihin téh ararasup ka jero kamar, tingkarayap dina tembok. Nu keur guley angger maceuh, silih tamplokkeun birahi asih asmara motah. Si Cakdas jeung si Cakdeung silih pelong, gogodeg bari tingkalacrék. Lain kabita, da lain dunyana. Tapi manglebarkeun ku paripolah dua insan nu teu sadar kana dirina yén paripolah rucah téh aya nu nyakséni, lain sakadang cakcak nu memang aya pantesna teu diharegaan ogé , tapi Gusti Alloh Nu Maha Ningali. (réngsé/ieu seratan parantos dimuat mangrupi carpon dina majalah Sunda Manglé no. 1981, ping 9 September 2004) **

Sabtu, 26 Juni 2021

CERITA dari KALTARA: Api Cemburu Membawa Petaka

Ilustrasi./via antaranews.com/ist. POS-cerita.blogspot.com - Orang bilang cinta bisa membawa petaka. Tentu ini cerita tentang cinta yang kebablasan. Cemburu kebangetan adalah contoh cinta kebablasan. Kalau sudah begitu yang muncul emosi meluap-luap, selebihya berubah perilaku menjadi manusia kerasukan setan. Ujung-ujungnya nyawa orang pun dengan enteng dihabisi meggunakan parang, seperti cerita fakta di awah ini. Api cemburu seorang  warga Nunukan, Kaltara Tr (45) membawa petaka karena dengan senjata tajam ia membabi buta menyerang Anwar (52) hingga tewas, Jumat  (25/6/2021) karena dituding merebut mantan istrinya. Sekira 10.15 Wita datang Tr  ke tempat korban bekerja dengan mengendarai kendaraan roda dua lalu turun sembari mendatangi korban. Dari arah belakang, Tr  langsung beberapa kali menebas dan menusukkan parangnya yang melukai kepala leher dan perut korban menyebabkan Anwar tersungkur tak berdaya. Melihat korban tidak berdaya, pelaku membuang parangnya lalu pergi dengan mengendarai sepeda motornya untuk menyerahkan diri ke Polres Nunukan. Sedangkan korban Anwar dilarikan  ke rumah sakit oleh warga dan polisi namun nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Pembunuhan berencana tersebut berawal permasalahan hubungan khusus yang dilakukan Anwar dengan mantan istri Tr (Thamrin) yang bernama Ida. "Pelaku dengan Ida menikah siri  pada tahun 2017 di Nunukan, kemudian pada tahun 2019 keduanya berpisah. Menurut Ida hubungan pernikahan siri itu sudah berakhir, namun pelaku tidak menerima," kata Iptu M. Karyadi, Kasubag Humas Polres Nunukan. Sejak saat itu sering terjadi percekcokan di antara keduanya, sampai pelaku Thamrin mengetahui bahwa Ida memiliki hubungan khusus dengan korban Anwar.  Emosi Pelaku memuncak, pada hari Jum'at (25/6/2021) sekitar pukul 01.00 Wita, pelaku mendatangi rumah Ida dan hendak membakarnya. Pagi harinya Thamrin berniat membunuh Anwar. Kemudian Pelaku pergi ke pasar Yamaker, Nunukan untuk membeli sebilah parang yang digunakan membunuh korban. "Berita seperti ini perlu diketahui oleh masyarakat agar tidak berlaku bodoh atau hanya sekadar mengkedepankan emosi karena setiap perbuatan kriminal pasti mendapat hukuman," kata Kapolres Nunukan AKBP Syaiful Anwar di Nunukan, Jumat. "Korban yang dibunuh adalah karyawan Agen Penyalur Minyak Solar (APMS) Cahaya Makarano bernama Anwar," kata Kapolres. Kapolres didampingi Kasubag Humas Polres Nunukan, Iptu M Karyadi menuturkan pada saat kejadian, korban Anwar sedang berada di APMS tempatnya bekerja bersama dengan saksi Ida, Alex, Hamka, dan Gafar. (fen/sumber cerita: antaranews.com) **  

Rabu, 23 Juni 2021

CERITA TUNTUNAN: Ibadah Tukang Sol Sepatu Kalahkan Haji Ratusan Ribu Orang

POS-cerita.blogspot.com.- Pada suatu masa ketika Abdullah bin Mubarak berhaji, ia tertidur di Masjidilharam. Di dalam tidurnya, ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit, kemudian yang satu berkata kepada yang lain, "Berapa banyak orang yang berhaji pada tahun ini?". "Enam ratus ribu," jawab yang lain. Lalu, ia bertanya lagi, "Berapa banyak yang diterima?" Jawabnya, "Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq. Dia tidak dapat berhaji, tetapi diterima hajinya sehingga semua yang haji pada tahun itu diterima dengan berkat hajinya Muwaffaq."  Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya, dan langsung berangkat menuju Damsyik mencari orang yang bernama Muwaffaq. Ketika bertemu dengan Muwaffaq, Abdullah bin Mubarak menceritakan mimpinya dan bertanya, "Kebaikan apakah yang telah Engkau lakukan sehingga mencapai derajat yang sedemikian itu?"  Jawab Muwaffaq, "Tadinya aku ingin berhaji, tapi tidak terlaksana karena ke adaanku, tetapi mendadak aku mendapat uang tiga ratus dirham dari pekerjaanku membuat dan menambal sepatu, lalu aku berniat haji pada tahun ini. Pada saat itu istriku sedang hamil maka suatu hari, dia mencium bau makanan dari rumah tetanggaku dan ingin mencicipi makanan itu. Aku pun pergi ke rumah tetanggaku dan menyampaikan tujuanku kepadanya."  Tetanggaku kemudian menjelaskan, "Aku terpaksa membuka rahasiaku, sebenarnya anak-anakku sudah tiga hari tanpa makanan, karena itu aku keluar mencari makanan untuk mereka. Tiba-tiba menemukan bangkai himar di suatu tempat, lalu aku potong bagian tubuhnya dan aku bawa pulang untuk dimasak. Adapun makanan ini halal bagi kami dan haram untukmu."  Ketika aku mendengar jawaban itu, aku segera kembali ke rumah dan meng ambil uang tiga ratus dírham, dan kuserahkan kepada tetanggaku tadi seraya menyuruhnya agar membelanjakan uang itu untuk keperluan anak-anak yatim, yang ada dalam pemeliharaannya itu.  "Sebenarnya hajiku adalah di depan pintu rumahku," ujar Muwaffaq menutup kisahnya. Allahu Akbar. (Irsyadul 'Ibad ila Sabilir Rasyad karya Syekh Zainuddin ibn Abdul Aziz al-Malibari). Kisah di atas memberikan pelajaran berharga kepada kita, kaum muslim bahwa sesungguhnya haji adalah amalan yang utama. Berjihad juga amalan utama, tetapi menyantuni anak yatim, orang miskin, dan orang telantar merupakan amalan yang lebih utama dan mulia. Beribadah haji itu untuk kepentingan pribadi, sedangkan menyantuni anak yatim dan memberikan makan kepada fakir miskin, menjadi ibadah sosial yang manfaatnya itu lebih besar. Meskipun belum berangkat haji, hal itu menyebabkan mabrurnya semua amalan ibadah lainnya.  لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ  "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS Ali Imran 92). Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa membantu keperluan saudaranya maka Allah akan membantu keperluannya." (Muttafaq 'alaih). (fen/sumber: ihram.co.id) **

Senin, 14 Juni 2021

CERITA dari JAKARTA: Preman Paling Ditakuti dan Dua Jagoan Penguasa Pelabuhan Tanjungpriok

Ilustrasi/dok. sindonews/ist.

POS-cerita.blogspot.com.- Premanisme di kawasan Tanjungpriok langsung disikat polisi pasca kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke
Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT)
dan Terminal Peti Kemas Koja, Jakarta Utara, Kamis (10/6/2021). 

Tak hanya di Tanjungpriok, atas perintah Kapolri, polisi langsung melakukan operasi preman besar-besaran di berbagai wilayah di Tanah Air.

Aksi premanisme di Jakarta sejatinya sudah ada sejak zaman Belanda. Bedanya, saat zaman penjajahan para preman beraksi dengan merampok warga keturunan Belanda dan Tionghoa untuk kemudian hasilnya diberikan kepada masyarakat miskin.

Pada zaman penjajahan Kolonial Belanda, terdapat beberapa preman yang terkenal dan ditakuti warga keturunan Belanda dan Tionghoa. Mereka tidak segan-segan melukai korbannya. Pada pertengahan akhir abad 19, masyarakat Batavia mengenal Muhammad Arif alias Haji Darip yang menguasai Klender, Pulogadung, Jatinegara, hingga Bekasi.

Sepak terjang kelompok Darip ini sudah kesohor sehingga pemerintahan Hindia Belanda mengiming-imingi hadiah kepada masyarakat yang bisa memberi tahu keberadaan Darip.

Dahulu target operasi yang dilakukan kelompok Darip bersifat patriotisme dan perampokan. Kelompok ini sangat selektif mengincar target operasi. Biasanya mereka mengincar orang-orang berkulit terang, seperti China dan warga keturunan Belanda.

Pertengahan abad 19 sebenarnya ada juga beberapa preman yang kesohor. Mereka adalah si Conat yang biasa berbuat kejahatan di kawasan Kebayoranlama hingga Tangerang.

Sedangkan di kawasan pantai Utara, ada preman bernama Angkri yang menguasai kawasan Marunda, Tanjungpriok, dan Ancol. Keduanya sama-sama merampok untuk diberikan ke warga miskin. 

Sepak terjang Angkri hampir sama dengan si Pitung yang sudah melegenda di Marunda. Kendati begitu belum ada catatan yang mengaitkan kedua orang ini.

Pasca kemerdekaan Indonesia, Jakarta yang menjadi Ibu Kota Negara memasuki zaman yang rawan dengan kekerasan dan tindak kriminal. 

Sebagian besar pelakunya merupakan eks pejuang laskar yang kehilangan pekerjaan karena revolusi telah usai. Mereka yang tidak terakomodasi dalam institusi resmi militer memilih “dunia kekerasan” untuk menyambung hidup.

Daerah-daerah ekonomi seperti Senen, Meester Cornelis, Tanahabang, dan Tanjungpriok, menjadi tempat menyandarkan kebutuhan hidup. Mereka menjajakan diri sebagai penjaga keamanan, centeng alias jagoan.

Daerah-daerah ekonomi itu menjadi lahan perebutan kekuasaan, baik antarindividu maupun antarorganisasi pengelola keamanan. Hal ini yang menjadi penyebab utama daerah tersebut dinamakan oleh masyarakat umum waktu itu sebagai daerah onderwereld (dunia hitam) yang dianggap seram dan menakutkan.

Tanjungpriok sebagai pelabuhan utama Kota Jakarta menjadi salah satu lumbung ekonomi yang dipenuhi para jagoan. Mereka berangkat dari berbagai macam latar belakang etnis. 

Secara umum tidak ada penguasa tunggal dari latar belakang etnis dalam dunia kekerasan di kota Jakarta.

Dikutip dari situs sejarahjakarta.com, dua etnis yang pernah eksis dalam percaturan onderwereld di Jakarta Utara atau di Pelabuhan Tanjungpriok dan sekitarnya adalah etnis Bugis dan Banten. 

Salah satu nama jagoan yang legendaris sebagai penguasa Pelabuhan Tanjungpriok hingga akhir tahun 50-an adalah Lagoa, tokoh masyarakat Bugis yang bernama asli Labuang De Passore. Selain sebagai tokoh masyarakat, Lagoa juga dikenal sebagai seorang jago yang merangkap menjadi mandor pelabuhan.

Para buruh menganggap mandor sebagai tokoh jago yang dituakan. Bahkan dianggap sebagai pemimpin dari kalangan etnisnya. Hal ini pula yang dialami Lagoa sewaktu menjadi Mandor Pelabuhan Tanjungpriok. 

Tidak hanya di kalangan etnis Bugis-Makassar, Lagoa juga dipandang sebagai tokoh masyarakat yang punya kharisma oleh etnis lain yang ada di seputar Pelabuhan Tanjungpriok.

Di Pelabuhan Tanjungpriok juga terdapat tokoh lain berasal dari etnis Banten yang berprofesi sebagai mandor, yaitu Haji Tjitra yang bernama lengkap Haji Tjitra bin Kidang. Namanya sudah kondang sebagai penguasa penguasa Pelabuhan Tanjungpriok sejak akhir tahun 1920-an yang direbutnya melalui pertarungan sengit dengan jago yang juga berasal dari Banten.

Kedatangan Lagoa di Pelabuhan Tanjungpriok sedikit banyak mengusik “pendaringan” Haji Tjitra bin Kidang. Sebab itu perseteruan kedua tokoh ini legendaris di Pelabuhan Tanjungpriok. 

Kerap kerusuhan terjadi di Pelabuhan Tanjungpriok karena perebutan kekuasaan dari dua mandor berbeda etnis ini, tidak sekali dua kali mengakibatkan korban nyawa yang menghiasi berita di koran-koran Ibu Kota kala itu.

Cerita kedua tokoh Mandor Pelabuhan Tanjungpriok dari berbeda etnis ini meski diawali dengan perseteruan, namun berakhir dengan harmonis. Keduanya mampu menjadi tokoh perdamaian peredam konflik yang pernah terjadi di antara etnis Bugis-Makassar dan Banten, bahkan dengan komunitas etnis lainnya.

Puncak kedamaian ditandai dengan diangkatnya Lagoa menjadi menantu oleh Haji Tjitra bin Kidang sebagai wujud perdamaian dan persaudaraan antara etnis Banten dan Bugis-Makassar di Tanjungpriok.

Pelabuhan Tanjungpriok sebagai daerah dengan penuh kekerasan terus berlanjut sepeninggal mereka berdua, bahkan meluas hingga ke luar daerah pelabuhan. 

Hingga di pertengahan tahun 60-an terjadi konflik besar yang memakan banyak korban jiwa antar beberapa etnis penguasa daerah kekerasan di Tanjungpriok.

Bahkan sampai harus melibatkan pejabat tinggi militer yang juga tokoh masyarakat Bugis saat itu, Brigjend. TNI Andi Muhammad Jusuf Amir dan Kol TNI Ahmad Daeng Setoedjoe untuk mendamaikan. 

Sampai kini, Tanjungpriok masih dikenal sebagai "daerah keras" meski tidak lagi sekeras dulu. (@fen/sumber: sindonews.com) **

CARNYAM SARWA "A", Gara-gara Randa Anyar (5) Nyacampah Garwa

Foto: kreasi Dola AI "Haaaar.....naha kalah ngabarakatak?" "Nya ngabarakatak Bah, masa Abah-abah ngajakan garwaan...