Iklan 8

Rabu, 08 Juli 2020

WARTA CRIME: Duel Satu Lawan Satu dan Berakhir di Tangan Polisi

Tersangka saat digiring ke Mapolsek Indihiang Kota Tasik./visi.news/istimewa

WARNA-warni-WARTA.blogspot.com.- Hafidz Ali (20) warga Kampung Padasuka,  Kelurahan Sukamaju,  Kecamatan Indihiang,  Kota Tasikmalaya harus merasakan sakit di bagian mukanya akibat dihantam helm setelah duel dengan AS (18) warga Desa Nagasari,  Kecamatan Limbangan,  Kabupaten Garut, pada Rabu (18/7).

Peristiwa duel tersebut terjadi setelah AS berusaha melakukan pencurian telepon genggam milik Hafidz. Namun, nahas bagi AS, niat  menggondol kekayaan milik Hafidz tersebut harus berujung di tangan Polsek Indihiang, Kota Tasikmalaya.

Kapolsek Indihiang, Kompol Didik Rohim Hadi mengatakan kejadian itu bermula saat pelaku AS bersama tiga rekannya mencuri HP dari kamar rumah Hafidz Ali (20) di lokasi kejadian.

Sialnya saat beraksi tepergok oleh saksi Zakyya Ridha (18). Kala itu saksi yang sedang tidur dan mendengar ada suara mencurigakan di luar. 

Selanjutnya saksi mengintai dari balik jendela. Saksi melihat ada orang yang mencurigakan. Saksi pun memberitahukan kepada korban, Hafidz Ali yang kala itu sedang tidur di ruang tamu. 

Korban pun mengintip di balik jendela ruang tamu. Terlihat ada orang tak dikenal berjalan di halaman rumah menuju ke jendela kamar. Korban pun menyuruh saksi, Zakyaa untuk memberitahukan kepada saksi lain, Eli Subarja (52) untuk bersama-sama menangkapnya. 

"Setelah Eli Subarja datang, korban dan Eli langsung membuka pintu rumah serta menendang pelaku hingga terjatuh. Korban pun langsung mengamankan pelaku," ungkap Didik, seperti dilansir VISI.NEWS.

Namun, ketika korban melihat ke arah luar ada tiga orang tak dikenal menggunakan 2 sepeda motor. Curiga itu sebagai kawan pelaku, korban pun melepaskan pelaku dan berniat untuk mengejarnya. Namun mereka melarikan diri.

"Sementara pelaku AS, yang sebelumnya dilepas oleh korban, memanfaatkan kesempatan itu untuk balik menyerang korban menggunakan helm," ungkap Kapolsek Dikdik. 

Dijelaskan,  saat itu korban tak menyadari  dirinya terancam. Berniat balik badan masuk ke dalam rumah lagi, tersangka langsung menghantamkan helm ke wajah korban. Dalam keadaan sadar korban pun membalasnya dan terjadilah perkelahian. 

Merasa pelaku keteter,  ungkap Dikdik,  berusaha kabur dan korban berusaha mengejar sambil berteriak meminta pertolongan warga. Hingga akhirnya pelaku bisa dilumpuhkan dan diamankan di pos ronda. 

Sementara itu, kata Dikdik,  korban langsung pulang ke rumah dan mengecek rumah. Benar saja, saat itu HP dan dompet milik korban sudah tidak ada. Sadar telah menjadi korban pencurian, korban pun melaporkan ke polisi. 

"Tidak lama petugas kepolisian yang mendapat laporan langsung datang ke lokasi dan membawa pelaku ke Mapolsek Indihiang untuk diproses lebih lanjut," tambahnya. 

Dijelaskan, selain mengamankan pelaku juga menyita barang bukti. Juga melakukan visum atas luka korban. Adapun pelaku dikenai pasal 365 KUH Pidana, ungkapnya.(@fen) **


WARTA POLITIK: Pemerintah dan DPR Diminta Segera Duduk Bersama untuk Cabut RUU HIP

Aboe Bakar Alhabsyi./eramuslim.com/ist. 

WARNA-warni-WARTA.blogspot.com.- VISI.NEWS - Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) dinilai sebaiknya tidak hanya ditunda pembahasannya, tetapi dibatalkan dan dicabut dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR RI.

Hal itu disampaikan oleh Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Aboe Bakar Alhabsyi, saat menanggapi massifnya penolakan masyarakat terhadap pembahasan RUU HIP tersebut di DPR.

Pria yang akrab disapa Habib itu mengungkapkan bahwa Pemerintah dan DPR RI harus segera duduk bersama untuk menyepakati pembatalan RUU HIP tersebut.

“Saya kira ini sangat mendesak karena publik sensitif dengan isu tersebut,” ungkapnya dalam keterangan resmi, di Jakarta, Rabu (8/7), seperti dilansir eramuslim.com.

Meskipun sebelumnya Pemerintah melalui Menko Polhukam Mahfud MD sudah menyampaikan akan melakukan penundaan pembahasan RUU HIP. Namun, menurut Habib, sepertinya sikap dan pernyataan itu saja tidak cukup.

“Terbukti aksi demonstrasi oleh masyarakat masih digelar di mana-mana. Mereka melakukan penolakan terhadap RUU tersebut,” ujarnya.

Habib mengatakan, yang disuarakan masyarakat adalah penolakan RUU HIP. Jadi, Habib menegaskan bahwa yang mereka minta bukan sekadar penundaan pembahasan.

“Tentu ini harus didengarkan dengan baik, apa yang menjadi aspirasi masyarakat,” kata Anggota Komisi III DPR RI itu. (@fen) **

WARTA DUKA: Suasana Duka Masih Menyelimuti Keluarga Almarhum H Usep Romli HM

Suasana duka masih menyelimuti keluarga dan kerabat serta handai tolan yang melayat./visi.news/zaahwan aries

 - "Setelah saya beri air minum, ia langsung terlihat tertidur pulas. Eh gak taunya ketika diperiksa oleh petugas, ternyata ia sudah meninggal," kata Ai. 

WARNA-warni-WARTA.blogspot.com.-  Suasana duka masih menyelimuti keluarga maupun kerabat dan handai tolan menyusul meninggalnya salah seorang wartawan dan sastarawan senior Sunda, H Usep Romli HM yang juga dikenal sebagai budayawan Suda kahot.
  
Usep Romli meninggal dunia di Rumah Sakit Al Yamin, Limbangan, Kabupaten Garut,  Jawa Barat Rabu (8/7) sekitar pukul 09.30 WIB. Sebelumnya almarhum sempat mendapatkan perawatan selama semalam karena sakit.

Istri alm Usep Romli, Hj Ai, menyebutkan pada Selasa (7/7) malam sekitar pukul 21.30, almarhum dibawa ke Klinik Al-Yamin Limbangan karena tiba-tiba mengalami sesak napas dan gula darahnya tinggi. Setelah dibantu dengan oksigen, ia pun merasa lebih enak dan nyaman sehingga bisa beristirahat dan tertidur.    

"Namun tadi pagi sekitar pukul 09.00 , almarhum kembali mengeluhkan sesak napasnya kembali. Pihak Klinik Al Yamin pun kemudian memutuskan untuk merujuknya ke Rumah Sakit Al-Islam Bandung," ujar Hj Ai saat ditemui di rumah duka di Kampung Kiaralawang, Desa Majasari, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, seperti dilansir VISI.NEWS.

Pihak Klinik Al Yamin pun, tutur Hj Ai, kemudian berkoordinasi dengan pihak Rumah Sakit Al Islam terkait rencana dirujuknya almarhum. Namun ternyata dari informasi pihak Rumah Sakit Al Islam diketahui bahwa saat itu di sana tidak ada tempat yang kosong dan sekitar pukul 09.30, almarhum meninggal.

Hj Ai menceritakan, sebelum meninggal, almarhum suaminya itu sempat menyampaikan kekhawatirannya kalau-kalau saat itulah dirinya akan meninggal. Sedangkan diakuinya, ia sampai saat ini belum mempunyai bekal yang akan dibawanya ke alam baqa.

Mendengar perkataan sang suami, Hj Ai pun sempat menegurnya dan berusaha menenangkannya. Setelah itu, almarhum pun sempat minta diberi air minum dan ketika itulah almarhum terlihat langsung tertidur pulas.

"Setelah saya beri air minum, ia langsung terlihat tertidur pulas. Eh gak taunya ketika diperiksa oleh petugas, ternyata ia sudah meninggal," kata Ai sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Selain menderita penyakit gula darah, menurut Hj Ai, almarhum juga mengidap penyakit prostat, dan itu sudah dialaminya sejak dua tahun lalu. Namun demikian, almarhum masih tetap beraktivitas, terutama menulis carpon. Almarhum meninggal pada usia ke-71.

H Usep Romli lahir di Garut pada 16 April 1949. Sebelum menjadi wartawan, almarhum merupakan seorang pegawai negeri sipil (PNS) dan sempat menjadi guru SD di Kadungora. Namun meskipun telah menjadi PNS, hasratnya untuk menulis tak bisa dibendung sehingga ia pun pernah menjadi koresponden Mingguan Fusi (1972), Giwangkara (1972-1976), surat kabar Pelita (1977-1979), dan surat kabar Sipatahunan (1979-1980).

Saat hendak dipindahkan ke kantor P dan K Bandung (kini Dinas Pendidikan), Usep Romli memilih keluar sebagai PNS dan bekerja penuh sebagai wartawan di Pikiran Rakyat (PR), sampai pensiun. Almarhum juga dikenal fasih berbahasa Arab sehingga selama menjadi wartawan PR, almarhum sering ditugaskan ke luar negeri termasuk daerah konflik seperti Afghanistan, untuk membuat laporan tentang perlawanan kaum mujahidin melawan pendudukan Soviet-Rusia. 

Tak hanya itu, almarhum Usep Romli juga pernah ditugaskan di daerah  konflik lainnya seperti Palestina dan Bosnia. 

Meski sudah pensiun dari PR, almarhum tetap aktif menulis di sejumlah media. Ia juga kerap diundang untuk menjadi pemateri, baik dalam kegiatan yang menyangkut dunia kewartawanan ataupun dalam acara-acara budaya. 

Kemampuannya menulis sudah terlihat sejak ia masih duduk di Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Karya-karyanya berupa sajak dan cerita pendek dalam bahasa Sunda sudah sering dimuat di berbagi media, seperti di majalah Kalawarta Kudjang, Mangle, Hanjuang, Giwangkara, dan Galura. 

Bahkan tak sedikit juga yang sudah dibukukan. Ia pun banyak menulis buku bacaan anak-anak, baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia. (@fen) **

Selasa, 07 Juli 2020

WARTA DUNIA: Presiden Penentang Lockdown Ini Kena Corona



Pemimpin negara yang selalu meremehkan virus corona kini dinyatakan positif Covid-19./afp/evaristo sa.

WARNA-warni-WARTA.blogspot.com.- Presiden Brasil Jair Bolsonaro, pemimpin negara yang selalu meremehkan virus corona kini dinyatakan positif Covid-19.

Respons Bolsonaro terhadap pandemi dikritik oleh berbagai pihak. Dia bahkan turut menentang lockdown. Menurut dia, kebijakan karantina dan lockdown hanya merusak perekonomian negara.

Dia juga menolak perintah untuk tinggal di rumah yang diberlakukan oleh sejumlah gubernur di Brasil untuk menahan penyebaran virus corona.

Dalam sebuah kesempatan pada pertengahan April lalu, Bolsonaro ikut turun ke jalan dan bergabung bersama ratusan demonstran untuk memprotes kebijakan lockdown, menjaga jarak, dan berdiam diri di rumah. Dia merangkul orang-orang yang berada di supermarket lokal dan gerai roti.

Pria yang dijuluki "Trump dari Brasil" itu menganggap kebijakan lockdown membuat pemerintah tidak bisa mendapatkan pemasukan sehingga tak memiliki cukup uang untuk menggaji pegawai negeri.

Sejak awal penyebaran, Bolsonaro kerap menganggap virus corona tak ubahnya flu biasa.

Bolsonaro dinilai memiliki lebih banyak musuh daripada teman di negaranya sendiri. Dia juga sempat menghabiskan waktu berlibur di sebuah resor ski di tengah pandemi.

Akibat Covid-19, Brasil mengalami krisis kesehatan masyarakat terburuk sejak wabah virus Zika pada tahun 2015.

Saat ini Brasil menjadi negara kedua dengan kasus corona terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat. Berdasarkan data statistikWorldometer, hingga Rabu (8/7) Brasil memiliki 1.674.655 dan 66.868 ribu kematian.

Gubernur dan wali kota di Brasil telah mengambil tindakan sendiri akibat lonjakan kematian, sementara Bolsonaro menentang tindakan itu dan mendorong para pendukungnya untuk ikut menentang mereka.

Dia memecat Menteri Kesehatan, Luiz Henrique Mandetta, terkait kebijakan lockdown itu.

Hanya saja, dalam waktu kurang dari sebulan, menteri kesehatan baru, Nelson Teich, memilih mengundurkan diri dengan alasan tidak cocok dengan sang presiden.

Dia juga memveto sejumlah pasal dalam RUU protokol kesehatan selama pandemi seperti pasal terkait kewajiban setiap perusahaan atau majikan menyediakan masker dan alat pelindung diri dari virus bagi para staf.

Semakin banyaknya kasus corona membuat sejumlah rumah sakit kewalahan, begitu juga layanan pemakaman.

Bolsonaro sendiri dinyatakan positif Covid-19 setelah empat kali dites usai mengalami demam. Menurut CNN, seperti juga dilansir CNN Indonesia, dia terinfeksi berdasarkan hasil pemeriksaan paru-paru yang dijalani pada Senin (6/7).

Bolsonaro menyampaikan langsung kabar itu dalam siaran langsung di televisi. Dalam pidato itu, Bolsonaro terlihat mengenakan masker dan meminta semua orang supaya menjauh darinya untuk sementara.

Dia dikabarkan sudah mengambil cuti selama sepekan untuk istirahat dan melakukan karantina. Bolsonaro mengaku telah menjalani rontgen paru-paru di rumah sakit militer sebagai tindakan pencegahan.

Selain melakukan tes Covid-19, dia juga telah mengkonsumsi obat hydroxchloroquine sebagai tindakan pencegahan.

Seperti dikutip dari AFP, di usia 65 tahun, Bolsonaro berada di salah satu kategori risiko tertinggi akibat virus yang telah membunuh lebih dari setengah juta orang di seluruh dunia dan menginfeksi hampir 12 juta jiwa. (@fen)**

Kasek SMAN 18 Garut Bantah Tahan Ijazah Siswa karena Belum Bayar Iuran


Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah XI Jawa Barat,  Asep Sudarsono./visi.news/zaahwan aries

WARNA-warni-WARTA.blogspot.com.- Berita tanda kelulusan atau ijazah salah seorang siswa yang ditahan dengan alasan belum bayar iuran, dengan tegas dibantah Kepala Sekolah (Kasek) SMAN 18 Garut, Sofyan Hidayat. 

Menurut Sofyan, pihak orang tua siswa telah salah paham sehingga beranggapan pihak sekolah telah menahan ijazah anaknya hanya karena belum melunasi iuran sebesar Rp 2 juta.

"Tidak benar, kenyataannya bukan seperti itu. Pihak sekolah punya kebijakan kok untuk membantu siswa termasuk memberikan semua kebutuhan siswa yang telah lulus," kata Sofyan di ruang Kepsek, Selasa (7/7), seperti dilansir situs VISI.NEWS.

Menurut Sofyan, jangankan siswa yang hanya mempunyai tunggakan Rp 2 juta, yang lebih besar dari itu juga tak ditahan ijazahnya. Ia mencontohkan, ada siswa yang masih punya tunggakan hingga Rp 10 juta, tetapi ijazahnya tetap diberikan setelah orang tuanya datang ke sekolah.

Terkait ungkapan yang dilontarkan orang tua Afrizal, siswa yang ijazahnya ditahan pihak sekolah, yang menyebutkan telah datang ke sekolah. Akan tetapi tetap diminta untuk membayar setengahnya, Sofyan juga membantah hal itu. Ia tetap bersikukuh jika orang tua Afrizal telah salah paham karena sebenarnya tak ada alasan bagi pihak sekolah untuk menahan ijazah siswa.

Di masa pandemi Covid-19 ini, tutur Sofyan, sekolah memberikan keringanan kepada para orang tua siswa dalam hal iuran. Hal itu pun telah disampaikan kepala sekolah ke tiap wali kelas sehingga tak mungkin jika sampai ada ijazah siswa yang lulus ditahan.

"Untuk apa pihak sekolah menahan ijazah siswa? Silahkan saja orang tuanya datang ke sekolah untuk membawa ijazah anaknya dan tidak usah dibayar kalau memang tak punya. Hampir semua STTB siswa hari ini sudah bisa dibawa, kecuali anak atau orang tuanya yang tidak datang ke sekolah," tegas Sofyan. 

Terkait adanya uang perpisahan yang menurut orang tua siswa juga harus dibayar, Sofyan menegaskan bahwa hal itu juga tidak perlu. Apalagi untuk tahun ini memang tidak ada kegiatan perpisahan yang dilaksanakan di sekolah.

Sementara itu Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah XI Jawa Barat, Asep Sudarsono, menyebutkan pihaknya tak mengharapkan adanya pengaduan jika pihak sekolah menahan ijazah siswa hanya dengan alasan belum melunasi iuran. 

"Pihak sekolah punya kebijakan untuk memberikan keringanan kepada siswa tidak mampu. Namun memang harus ada persyaratan yang dibuat pihak orang tua, yakni membuat pernyataan dan mengajukan ke sekolah," ujar Asep.

Menurutnya, pernyataan itu sangat dibutuhkan pihak sekolah untuk pertanggungjawaban. Jika suatu saat ada orang tua siswa lain yang mempertanyakan. 

"Maka pihak sekolah bisa membuktikan keabsahan tersebut. Dan pihak sekolah pun tentu tak akan sampai mempersulit," kata Asep. 

Asep jmenandaskan,  pihak orang tua siswa tak perlu membayar uang iuran untuk perpisahan karena tahun ini tak ada kegiatan apa pun di sekolah. Di masa Covid-19 jangankan perpisahan, pelaksanaan Ujian Nasional pun dibatalkan.

Asep mengaku, pihaknya telah memerintahkan Kepala SMAN 18 untuk membantu meringankan siswa kurang mampu. Ia pun meminta orang tua Afrizal untuk datang ke sekolah, mengambil ijazah anaknya agar bisa dipergunakan sesuai keperluan. (@fen) **


Dendam Dituduh Curi Ayam, YH Nekat Bakar 3 Unit Mobil



Tersangka pembakar 3 unit mobil digelandang ke kantor polisi./visi.news/ayi kuraesin.

TASIKMALAYA - Pelaku pembakar 3 unit mobil, YH (29) warga Kelurahan Cipedes, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengaku nekat membakar mobil karena sakit hati yang kemudian timbul rasa dendam setelah dituduh mencuri ayam.

YH tidak merasa mencuri ayam. Namun pemilik mobil Ade Solihat (53) menuduh YH mencuri ayam. Atas tuduhannya itu YH merasa sakit hati dan menyimpan dendam untuk membalas rasa sakitnya itu.

Hingga suatu saat, YH melepas rasa sakit hati dan dendamnya itu dengan membakar mobil milik Ade.

“Saya merasa sakit hati dan dendam setelah dituduh mencuri ayam. Padahal saya tidak mencuri,” ucap YH sambil tertunduk saat dalam pemeriksaan, Selasa (7/7), seperti dilansir VISI.NEWS.

Menurutnya, atas tuduhan itu YH merasa sakit hati yang hingga ke ubun-ubun, hingga timbul rasa dendam. Perasaan dendam itu dilampiaskan YH dengan membakar mobil milik Ade, warga Bojongkaum, Kelurahan Panglayungan.

Karena sudah gelap mata oleh rasa dendam, YH membawa karung dari rumahnya dengan maksud membakar mobil. Sesampainya di lokasi, YH menyimpan karung itu di bawah mobil grand max dan membakarnya.

“Saya sudah gelap mata oleh rasa sakit hati dan dendam. Saya berpikir harus membalas rasa sakit hati itu. Maka saya membawa karung dan dibakar di kolong mobil, selanjutnya saya pergi,” kata YH.

Akibat perbuatannya itu, mobil pik-up milik Ade terbakar. Bahkan dua mobil yang berada di dekatnya ikut terbakar. Kejadian itu mengundang perhatian warga sekitar dan melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Sementara itu Kapolsek Indihiang, Polresta Tasikmalaya, Kompol Didik Rohim Hadi mengatakan semula menyangka kejadian tersebut akibat korsleting listrik. Tapi setelah hasil olah tempat kejadian perkara dan penyelidikan, ternyata kebakaran itu bukan akibat korsleting listrik. Sekitar seminggu melakulan penyelidikan, akhirnya dapat mengungkap kasus tersebut.

“Benar, awalnya ada laporan dari warga mobil terbakar. Setelah dilakulan olah TKP dan penyelidikan, ada kejanggalan atas terbakarnya itu. Selanjutnya ditindaklanjuti di lapangan,” ucapnya.

Menurutnya, hasil olah TKP terungkap bahwa itu disimpulkan bukan akibat korsleting listrik, namun ada unsur kesengajaan. Atas kesimpulan itu, pihaknya pun meningkatkan penyelidikan, melakukan pemeriksaan saksi yang dianggap mengetahui kejadian tersebut.

Selama seminggu melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan saksi, hingga akhirnya mengarah pada tersangka. Tidak membutuhkan waktu lama, tersangka pun berhasil diringkus.

“Tak membutuhkan waktu lama, setelah diperoleh titik terang pelakunya langsung diamankan,” tuturnya.

Dikatakan dia, tanpa mengelak pelaku mengakui perbuatannya. Pelaku juga mengakui perbuatannya itu didasari sakit hati terhadap korban. Antara tersangka dengan korban pernah ada permasalahan. Kemudian tersangka melampiaskan kekesalannya dengan membakar mobil korban.

“Tersangka terancam hukuman 12 tahun penjara karena melanggar pasal 187 KUHPidana,” tuturnya.

Dijelaskan Didik, kasus ini berawal dari 3 buah mobil yang sedang terparkir di Kampung Gunungbalaba, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Senin (29/06/2020) malam pukul 22.30. Sebanyak 3 unit mobil hangus terbakar dalam satu malam.

Ketiga mobil itu adalah pick-up Grand Max warna putih bernopol Z 8832 KG milik Ade (53), warga Bojong Kaum, Cipedes, sedan Toyota Corola Dx bernopol D 1480 KN, milik Dani (32) warga Panglayungan, Cipedes. Kemudian pick-up Suzuki tanpa plat nomor sudah rusak alias tidak jalan milik Ujang Doon (40), warga Panglayungan, Cipedes.

Api diduga muncul dari mobil pick-up Grand Max. Akibat kebakaran itu, ketiga mobil mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan kembali. Kerugian ditaksir sekitar Rp 90.000.000. (@fen) **

Senin, 06 Juli 2020

Masih Punya Tunggakan, Ijazah Siswa Ditahan, Sang Ayah Hanya Titikkan Air Mata


Oyi, orang tua siswa./visi.news/zaahwan aries.

GARUT.- Perasaan sedih terlihat jelas di raut muka Oyi Supriatna (52).  Warga Kampung Cireundeu Sipah, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat,  ini mengaku sangat menyesal karena tak bisa membantu anaknya yang baru lulus dari sebuah SMK untuk mendapatkan tanda kelulusannya.

Oyi mengaku sangat merasa bersalah karena gara-gara dirinya tak bisa bekerja lagi, anak laki-laki pertamanya, Reza Subagja (18) kini tak bisa mengambil tanda kelulusan dari sekolahnya. Hal ini karena anaknya masih punya tunggakan piutang ke sekolah sebesar Rp 2 juta.

Dikisahkannya, ia sudah tak mampu lagi bekerja untuk mencari nafkah sejak 8 bulan terakhir tepatnya setelah pandangan matanya kabur. Hal ini terjadi menyusul penyakit diabetes yang sudah dideritanya sejak 5 tahun lalu.

"Sebagai kepala keluarga, seharusnya saya yang menanggung semua kebutuhan keluarga, mulai  makan hingga biaya sekolah. Namun untuk saat ini saya bukannya tak mau bertanggung jawab, tapi karena kondisi saya yang sudah tak punya kemampuan akibat pandangan saya yang sudah kabur," ujar Oyi saat ditemui di rumah adiknya di kawasan Kampung Cireundeu Sipah, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Senin (6/7), seperti dilansir situs berita VISI.NEWS.

Sewaktu kondisi kesehatannya masih baik, diungkapkan Oyi, dirinya bekerja di bidang pertanian dengan penghasilan yang cukup untuk menafkahi keluarganya. Begitu pun setelah dirinya menderita penyakit diabetes, ia masih bisa mencari nafkah untuk keluarganya.

Namun semuanya berubah total setelah penyakit diabetes yang dideritanya mulai menimbulkan dampak lebih buruk dimana pandangan matanya mulai kabur. Sejak saat itu sehari-harinya ia hanya bisa terduduk di teras rumahnya.

Diakuinya, begitu mendengar kabar anak sulungnya akan lulus dari sebuah SMKN, ia merasa sangat bahagia dan bangga. Ia berharap anaknya bisa segera bekerja karena kebetulan ada program yang akan diikuti agar bisa bekerja di Jepang.

Namun sayang, kebahagiaan yang dirasakan Oyi langsung berubah menjadi kesedihan yang begitu dalam karena anaknya tak bisa mengambil tanda kelulusan. Hal ini karena pihak sekokah menahan tanda kelulusan anaknya karena masih mempunyai piutang sebesar Rp 2 juta ke sekolah.

"Sejak pandangan mata saya kabur, saya memang sudah tak bisa lagi melakukan kewajiban saya sebagaimana layaknya seorang kepala keluarga. Saya tak bisa lagi bekerja sehingga tak lagi bisa memberikan biaya untuk kebutuhan keluarga termasuk biaya sekolah anak saya," katanya.
 
Di matanya, Reza merupakan anak yang sangat rajin dan mempunyai semangat belajar yang tinggi. Hal ini sudah terlihat sejak Reza masih belajar di bangku SD hingga SMK. 

Meski jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, Reza tak pernah segan berjalan kaki baik saat berangkat maupun pulang sekolah. Ia pun tak pernah  mengeluh walau harus berangkat sekolah dengan hanya membawa bekal Rp 1.000 atau Rp 2.000 saja.

Oyi menuturkan, jika teringat akan kesungguhan anaknya untuk belajar, tak jarang ia sampai menitikkan air matanya. Apalagi dengan kondisinya yang seperti saat ini yaitu dirinya sama sekali tak berdaya ketika anaknya menemui kesulitan karena tak bisa mengambil tanda kelulusannya di sekoah.

Disampaikan Oyi, menurut keterangan anaknya, tanda kelulusannya tak bisa diambil karena pihak sekokah meminta sisa tunggakan uang SPP, uang buku, dan biaya perpisahan dilunasi dulu. Pihak sekolah baru akan memberikan tanda kelulusan Reza kalau tunggakan sebesar Rp 2 juta tersebut sudah dilunasi.

"Saya benar-benar bingung dan sedih dibuatnya. Sampai-sampai saya nyaris nekad pinjam uang ke rentenir, untung saya keburu sadar dari mana nanti cari untuk membayarnya?" ucap Oyi.

Lebih jauh Oyi menceritakan, dengan didampingi anggota BPD (Badan Perwakilan Desa), Senin pagi istrinya telah mencoba datang ke SMKN 18, tempat anaknya selama ini menimba ilmu. Maksud kedatangan istrinya tak lain untuk membicarakan kesulitan dirinya.

Sementara itu, istri Oyi, Dede Sumarni mengatakan bahwa pihak sekolah memintanya tetap harus menyelesaikan administrasi. Besok ia diminta datang lagi ke sekolah dengan membawa uang meskipun belum penuh sebesar Rp 2 juta.

"Saat ini saya juga masih bingung karena besok harus datang lagi ke sekokah dengan membawa sebagian uang tunggakan yang tetap harus dibayar. Saya sendiri mengaharapkan ada kebijakan dari pihak sekokah untuk memberikan keringanan atau membebaskan iuran karena memang kami sama sekali tak punya uang," kata ibu rumah tangga yang kesehariannya bekerja sebagai tukang obras pakaian ini. (@fen) ** 


CARNYAM SARWA "A", Gara-gara Randa Anyar (5) Nyacampah Garwa

Foto: kreasi Dola AI "Haaaar.....naha kalah ngabarakatak?" "Nya ngabarakatak Bah, masa Abah-abah ngajakan garwaan...