Iklan 8

Senin, 14 Juni 2021

CERITA dari JAKARTA: Preman Paling Ditakuti dan Dua Jagoan Penguasa Pelabuhan Tanjungpriok

Ilustrasi/dok. sindonews/ist.

POS-cerita.blogspot.com.- Premanisme di kawasan Tanjungpriok langsung disikat polisi pasca kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke
Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT)
dan Terminal Peti Kemas Koja, Jakarta Utara, Kamis (10/6/2021). 

Tak hanya di Tanjungpriok, atas perintah Kapolri, polisi langsung melakukan operasi preman besar-besaran di berbagai wilayah di Tanah Air.

Aksi premanisme di Jakarta sejatinya sudah ada sejak zaman Belanda. Bedanya, saat zaman penjajahan para preman beraksi dengan merampok warga keturunan Belanda dan Tionghoa untuk kemudian hasilnya diberikan kepada masyarakat miskin.

Pada zaman penjajahan Kolonial Belanda, terdapat beberapa preman yang terkenal dan ditakuti warga keturunan Belanda dan Tionghoa. Mereka tidak segan-segan melukai korbannya. Pada pertengahan akhir abad 19, masyarakat Batavia mengenal Muhammad Arif alias Haji Darip yang menguasai Klender, Pulogadung, Jatinegara, hingga Bekasi.

Sepak terjang kelompok Darip ini sudah kesohor sehingga pemerintahan Hindia Belanda mengiming-imingi hadiah kepada masyarakat yang bisa memberi tahu keberadaan Darip.

Dahulu target operasi yang dilakukan kelompok Darip bersifat patriotisme dan perampokan. Kelompok ini sangat selektif mengincar target operasi. Biasanya mereka mengincar orang-orang berkulit terang, seperti China dan warga keturunan Belanda.

Pertengahan abad 19 sebenarnya ada juga beberapa preman yang kesohor. Mereka adalah si Conat yang biasa berbuat kejahatan di kawasan Kebayoranlama hingga Tangerang.

Sedangkan di kawasan pantai Utara, ada preman bernama Angkri yang menguasai kawasan Marunda, Tanjungpriok, dan Ancol. Keduanya sama-sama merampok untuk diberikan ke warga miskin. 

Sepak terjang Angkri hampir sama dengan si Pitung yang sudah melegenda di Marunda. Kendati begitu belum ada catatan yang mengaitkan kedua orang ini.

Pasca kemerdekaan Indonesia, Jakarta yang menjadi Ibu Kota Negara memasuki zaman yang rawan dengan kekerasan dan tindak kriminal. 

Sebagian besar pelakunya merupakan eks pejuang laskar yang kehilangan pekerjaan karena revolusi telah usai. Mereka yang tidak terakomodasi dalam institusi resmi militer memilih “dunia kekerasan” untuk menyambung hidup.

Daerah-daerah ekonomi seperti Senen, Meester Cornelis, Tanahabang, dan Tanjungpriok, menjadi tempat menyandarkan kebutuhan hidup. Mereka menjajakan diri sebagai penjaga keamanan, centeng alias jagoan.

Daerah-daerah ekonomi itu menjadi lahan perebutan kekuasaan, baik antarindividu maupun antarorganisasi pengelola keamanan. Hal ini yang menjadi penyebab utama daerah tersebut dinamakan oleh masyarakat umum waktu itu sebagai daerah onderwereld (dunia hitam) yang dianggap seram dan menakutkan.

Tanjungpriok sebagai pelabuhan utama Kota Jakarta menjadi salah satu lumbung ekonomi yang dipenuhi para jagoan. Mereka berangkat dari berbagai macam latar belakang etnis. 

Secara umum tidak ada penguasa tunggal dari latar belakang etnis dalam dunia kekerasan di kota Jakarta.

Dikutip dari situs sejarahjakarta.com, dua etnis yang pernah eksis dalam percaturan onderwereld di Jakarta Utara atau di Pelabuhan Tanjungpriok dan sekitarnya adalah etnis Bugis dan Banten. 

Salah satu nama jagoan yang legendaris sebagai penguasa Pelabuhan Tanjungpriok hingga akhir tahun 50-an adalah Lagoa, tokoh masyarakat Bugis yang bernama asli Labuang De Passore. Selain sebagai tokoh masyarakat, Lagoa juga dikenal sebagai seorang jago yang merangkap menjadi mandor pelabuhan.

Para buruh menganggap mandor sebagai tokoh jago yang dituakan. Bahkan dianggap sebagai pemimpin dari kalangan etnisnya. Hal ini pula yang dialami Lagoa sewaktu menjadi Mandor Pelabuhan Tanjungpriok. 

Tidak hanya di kalangan etnis Bugis-Makassar, Lagoa juga dipandang sebagai tokoh masyarakat yang punya kharisma oleh etnis lain yang ada di seputar Pelabuhan Tanjungpriok.

Di Pelabuhan Tanjungpriok juga terdapat tokoh lain berasal dari etnis Banten yang berprofesi sebagai mandor, yaitu Haji Tjitra yang bernama lengkap Haji Tjitra bin Kidang. Namanya sudah kondang sebagai penguasa penguasa Pelabuhan Tanjungpriok sejak akhir tahun 1920-an yang direbutnya melalui pertarungan sengit dengan jago yang juga berasal dari Banten.

Kedatangan Lagoa di Pelabuhan Tanjungpriok sedikit banyak mengusik “pendaringan” Haji Tjitra bin Kidang. Sebab itu perseteruan kedua tokoh ini legendaris di Pelabuhan Tanjungpriok. 

Kerap kerusuhan terjadi di Pelabuhan Tanjungpriok karena perebutan kekuasaan dari dua mandor berbeda etnis ini, tidak sekali dua kali mengakibatkan korban nyawa yang menghiasi berita di koran-koran Ibu Kota kala itu.

Cerita kedua tokoh Mandor Pelabuhan Tanjungpriok dari berbeda etnis ini meski diawali dengan perseteruan, namun berakhir dengan harmonis. Keduanya mampu menjadi tokoh perdamaian peredam konflik yang pernah terjadi di antara etnis Bugis-Makassar dan Banten, bahkan dengan komunitas etnis lainnya.

Puncak kedamaian ditandai dengan diangkatnya Lagoa menjadi menantu oleh Haji Tjitra bin Kidang sebagai wujud perdamaian dan persaudaraan antara etnis Banten dan Bugis-Makassar di Tanjungpriok.

Pelabuhan Tanjungpriok sebagai daerah dengan penuh kekerasan terus berlanjut sepeninggal mereka berdua, bahkan meluas hingga ke luar daerah pelabuhan. 

Hingga di pertengahan tahun 60-an terjadi konflik besar yang memakan banyak korban jiwa antar beberapa etnis penguasa daerah kekerasan di Tanjungpriok.

Bahkan sampai harus melibatkan pejabat tinggi militer yang juga tokoh masyarakat Bugis saat itu, Brigjend. TNI Andi Muhammad Jusuf Amir dan Kol TNI Ahmad Daeng Setoedjoe untuk mendamaikan. 

Sampai kini, Tanjungpriok masih dikenal sebagai "daerah keras" meski tidak lagi sekeras dulu. (@fen/sumber: sindonews.com) **

CERITANYA ARTIS: Kang Tata, Béntol (3)

JRENG, jreng, jreng gitar dipetik. Lagu yang punya judul  "Béntol" siap dikumandangkan di hadapan publik tingkat RW ketika diselenggarakan malam hiburan Agustusan.

Penonton bersukaria, melontarkan yel-yel histeris yang membuat Kang Tata Takwa terasa miris, meringis, bercampur muriang panas tiris.

Tapi tekadnya begitu kuat untuk mempublikasikan lagu "Béntol"-nya, lebih jauhnya siapa tahu ada produser rekaman yang nyasar, kelak dapat mengajak Kang Tata Takwa untuk rekaman.

Maka di panggung Agustusan itu, senandung "Béntol" pun dinyanyikan Kang Tata dengan amat menjiwai.

"Béntoool...duh asyiknya punya béntol
menyendol segede jéngkol
kalau punya béntol jangan ditakol
biarkanlah asyik menjendol

Ooooh.....béntol
Anak muda, lebih baik garuk béntol
ketimbang nenggak alkohol

Néng Asih perawan bahénol
perutnya dumadak béntol
kenak tembak.....konciiiii......!"

"Hidup Kang Tata Takwa Béntol, hiduuuup.....!"

Yel-yel penonton kian bergema. Tak ketulungan lagi. Saking antusiasnya aplus penonton, beberapa lemparan botol bertubi-tubi menghunjam muka Kang Tata.

Suasana makin kisruh. Pertunjukan pun akhirnya dihentikan karena muka Kang Tata sudah bénjol. Petugas keamanan gasik menolong. Kang Tata dibopong hansip. Dalam keadaan setengah sadar, Kang Tata Takwa ngaharéwos ka hansip.

"Daripada jadi artis penyanyi dengan risiko muka bénjol, mending jadi tukang céndol!" (habis/tulisan ini telah dimuat di HU Galamedia dalam rubrik Galaria/Sketsa Artis, edisi Minggu, 16 September 1990) ** 

CERITANYA ARTIS: Kang Tata, Béntol (2)


SAKING gedenya cita-cita Kang Tata untuk jadi penyanyi kondang, dalam angen-angennya tercanang kebulatan tekad yang takkan dibenjolkan lagi.

Ia ingin seperti idolanya Iwan Fales, malah ingin mengunggulinya sehingga di negeri yang masyarakatnya tengah gandrung yang sarwa aheng, sarwa demam modernisasi ini, hanya Kang Tata sendirilah yang harus unggul.

Makanya, tak heran kalau detik demi detik, menit demi menit, Kang Tata begitu anteng dengan gitarnya layaknya sebagai bini.

Kalau Iwan Fales kesohor dengan lagunya "Mata Dewa", "Bento", dan "Kantata Taqwa", Kang Tata pun tak cicingeun. Ia sibuk berkreasi, mencipta lagu dengan napas religius macam "Kantata Taqwa"-nya Iwan Fales.

Tak aneh lagi kalau Kang Tata menambah namanya yang pendek  sedikit rada panjang, yakni jadi Kang Tata Takwa. Dan cap  itu mujarab juga untuk  menarik sumbangan dari para dermawan, baik yang rela maupun yang terpaksa karena watir melihat Kang Tata berngamenria.

Lalu, demi menyimak Iwan Fales yang sukses dengan lagu "Bento", Kang Tata Takwa pun tak mau eleh geleng, meski tak berati lantas ia  ngajolopong di rel KA untuk dilindas KA.

Mujur, inspirasi lagu pun datang ketika dia sedang ngendon di WC. Ya, tiba-tiba pantatnya yang sedang ngaheujeun digigit nyamuk atah adol sehingga kulitnya mendadak menjendol alias bentol.

"Horeeeee....dewek dapat ide!" teriaknya. 

Saat itu juga dia langsuung memburu kamarnya, tak peduli sang pantat yang masih rametek. Itu karena ia saking bungah mendapat inspirasi lagu anyarnya yang berjudul "Bentol". (bersambung) **

Kamis, 10 Juni 2021

CERITANYA ARTIS: Kang Tata, Béntol (1)

NAMANYA pendek, sependek ujud tubuhnya, hanya satu kata empat hurup, T A T A. Akan tetapi, biarpun namanya pendek, cita-ctanya mah sepanjang jalan harapan. Dia senang kalau dipanggil Akang atau Kang. Lalu konco-konco dan penggemarnya atau zaman now mah disebut fans cenah, memanggil dia dengan sebutan Kang Tata. Sehari-harinya si Akang kita ini bergelut dengan dunia tarik urat lehernya sendiri. Bukan untuk bunuh diri, tapi untuk bernyanyi ria! Adapun jalur musik yang didebutinya sungguh merakyat, yaki jalur bus kota dari segala jurusan. Bisa jalur Caheum - Cibeureum, Panjang - Caheum, Panjang - Gado, eh Dago, dst. Ya, si Akang kita ini merintis dunia nyanyi sebagai pengamen jalanan pada jalur bus kota. Suaranya fales, persis kaboganya Iwan Fals --penyanyi kondang yang digandrungi kawula muda negeri dewek. Nah si Akang kita ini pun termasuk penggemar kelas bulu, eh kelas berat Iwan Fals. Kefalesan suara Kang Tata, memang lain dengan Iwan. Kalau Iwan bisa jadi sebutan falsnya hanya "trade merek" karena toh senandungnya piduiteun, tapi kefalesan tokoh kita ini nyaris mengkoitkannya. Konon menurut catatan entah punya siapa, waktu kecil si Kang Tata ini doyan memainkan stoples, lalu iseng dikolomoh. Sial stoples tertelan dan megil di tenggorokannya. Tapi mujur masih bisa dimuntahkan dengan cara diketig punduknya oleh peureup ayahnya. Sayang, suaranya jadi berubah fales. Namun belakangan dia bersyukur karena dengan suaranya yang fales itu, kini dapat menerima sumbangan dari tangan-tangan dermawan jalanan entah itu cepe entah gocap (sekarang mah mungkin seribu dua ribu perak). Yang pasti, dengan uang sumbangan itu Kang Tata bisa memanjangkan hobinya nyeungeut udud di bibirnya alias merokok. (bersambung) **

Sabtu, 12 September 2020

CERITA dari SLOVENIA: Ingin Dapat Untung dari Tangan Buntung

Ilustrasi./bbcnews/ist.

POS-cerita.blogspot.com -  Perempuan yang menggergaji tangannya sendiri sampai buntung dinyatakan bersalah atas penipuan asuransi.

Seorang perempuan di Slovenia dinyatakan bersalah karena menggergaji tangannya sendiri sebagai bagian dari modus penipuan asuransi.

Melansir bbcnews, pengadilan di ibu kota Ljubljana menemukan bahwa Julija Adlesic, 22 tahun, telah mengambil lima polis asuransi setahun sebelum tangannya cedera. Ia mengklaim cedera itu terjadi saat ia menebang pohon.

Ia kini menghadapi hukuman dua tahun penjara, sementara pacarnya telah dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.

Adlesic dan sejumlah kerabatnya ditangkap pada 2019 setelah ia tiba di rumah sakit dengan tangan yang terpotong di atas pergelangan tangan.

Pengadilan menemukan bahwa ia dan pacarnya sengaja meninggalkan potongan tangannya alih-alih membawanya ke rumah sakit, untuk memastikan ia buntung permanen. Namun pihak berwenang menemukan tangannya tepat waktu untuk menjahitnya kembali.

Jaksa penuntut mengatakan pacar perempuan itu juga melakukan pencarian di internet tentang tangan palsu beberapa hari sebelumnya.

Jaksa penuntut mengatakan ini adalah bukti bahwa cedera itu disengaja.

Ayah dari pacar Adlesic juga dijatuhi hukuman penangguhan selama satu tahun.

Sepanjang persidangan, Adlesic membantah telah sengaja memotong tangannya.

Seandainya klaim palsu itu berhasil, ia dan pacarnya akan menerima lebih dari setengah juta euro secara tunai, dan sisanya dibayar dalam bentuk cicilan bulanan. (@fen) **

CERITA PINKAN MAMBO: Blak-Blakan Jualan Pisang Goreng dan Pegang Uang Cuma Rp 10.000


Pinkan Mambo menangis./youtube/melaney ricardo./merdeka.com

POS-cerita.blogspot.com - Mantan personel duo ratu, Pinkan Mambo blak-blakan berbicara mengenai kondisi perekonomian keluarganya yang sempat mengalami kesulitan beberapa tahun belakangan. 

Hal tersebut ia sampaikan di video terbaru yang diunggah di kanal Youtube Melaney Ricardo.

Dalam video tersebut, Pinkan mengatakan bahwa dirinya sempat mengalami kesulitan bahkan sekadar  untuk makan. Berikut informasi selengkapnya:

Dalam video terbaru dengan tajuk 'DARI PENYANYI DI USA SAMPAI JADI TUKANG PISANG KELILING!', Pinkan Mambo menceritakan kehidupan pribadinya yang harus bekerja keras banting tulang untuk menghidupi 6 orang anaknya setelah tak lagi aktif di industri hiburan.

Pinkan mengaku bahwa dirinya harus memutar otak dan rela mencari uang halal dengan cara apa pun untuk anak-anaknya. Ia bahkan mengatakan bahwa dirinya sempat stres dan hampir gila.

"Gara-Gara karena kepepet itu gue jadi pintar Mel, sekarang aku juga mulai dipanggil-panggil buat ngelawak gue gak tahu bisa ngelawak ya karena kepepet Mel," cerita Pinkan.

Jualan Pisang Goreng

Pinkan mengaku bahwa dirinya sempat berjualan pisang dari warung ke warung demi bisa bertahan hidup bersama ke-enam orang anaknya.

"Aku jual pisang goreng dari warung ke warung pakai motor sama anak aku, itu cuma untung lima ribu, dua ribu, recehan aku kumpulin," kata Pinkan.

Pernah Cuma Pegang uang Rp10 Ribu

Dalam video tersebut, Pinkan mengaku bahwa dirinya pernah hanya memegang uang sebesar Rp10 ribu dari hasil berjualan pisang goreng bersama anaknya. Ia pun menangis mengingat perjuangannya saat harus menggunakan uang Rp10 ribu tersebut untuk mencukupi kebutuhan dia dan anak-anaknya.

"Aku kumpulin untung jualan Rp10 ribu terus aku masuk ke minimart, Aku bilang sama Misya (anak Pinkan) ini sepuluh ribu kita beli apa," kata Pinkan sambil menangis.

Hanya Cukup untuk Beli Beras & Sirup

Karena tak ada lagi uang tambahan, Pinkan mengatakan jika ia hanya bisa membeli beras satu liter dan juga satu botol sirup untuk dia dan anak-anak.

"Oke kita beli beras satu liter atau setengah liter aja, terus anak-anak kan butuh vitamin terus kita beli apa coba bukan buah. Kita beli sirup supaya anak-anak ada gizinya," cerita Pinkan.

Bisnis Mulai Berkembang

Sejak awal Pinkanlah yang turun langsung dalam bisnisnya. Mulai berbelanja, memasak, hingga mengantar ke konsumen. Berkat ketangguhan dan semangat Pinkan, bisnis baru yang tengah digelutinya semakin menunjukkan titik terang.

Kini Pinkan sudah tidak perlu repot-repot mengantar pesanan langsung ke pelanggan. Mantan teman duet Maia Estianty ini sekarang sudah memiliki jasa kurir sendiri yang siap mengantar pesanan pelanggan ke berbagai wilayah. (@fen/merdeka.com) **

Rabu, 09 September 2020

Cerita dari India: Nenek 86 Tahun "Dikeureuyeuh" Pemerkosa di Ladang nan Sepi

Perkosaan terhadap nenek berusia 86 tahun gegerkan India, negara yang mencatat puluhan ribu kejahatan ini per tahun./bbcnews/ist.

POS-cerita-blogspot.com - Kasus perkosaan kembali menggegerkan India. Kali ini korban tindak kejahatan ini adalah seorang nenek berusia 86 tahun di ibu kota Delhi.

"Korban sedang menunggu kiriman dari tukang susu di luar rumahnya pada Senin (7/9/2020) malam saat didekati pelaku," kata Swati Maliwal, direktur Komisi Delhi untuk Perempuan.

"Pelaku mengatakan bahwa tukang susu tidak datang dan ia menawarkan diri mengantar korban ke tempat pengambilan susu," kata Maliwal.

Nenek tersebut percaya dengan penuturan pelaku, kata Maliwal. Di tengah jalan, di satu ladang pertanian, pelaku memperkosa korban.

"Korban menangis dan meminta pelaku untuk meninggalkannya. Ia mengatakan dirinya tak ubahnya nenek pelaku. Tapi permintaan ini diabaikan. Pelaku tetap melaksanakan aksinya...," kata Maliwal.

Nenek tersebut diselamatkan oleh warga yang kebetulan lewat, yang mendengarnya menangis. Warga juga menangkap pelaku, yang kemudian diserahkan kepada polisi setempat.

Maliwal menemui korban pada keesokan harinya yang ia gambarkan dalam kondisi yang mengenaskan.

"Wajah dan badannya memar-memar ... ia mengatakan mengalami pendarahan di vagina. Ia sangat trauma dengan kejadian yang menimpanya," ujar Maliwal.

Ia mendesak agar pelaku perkosaan dihukum mati.

Satu perkosaan setiap 15 menit

Perkosaan dan kejahatan seksual menjadi pembicaraan nasional sejak Desember 2012, ketika seorang mahasiswi berusia 23 tahun diperkosa beramai-ramai di atas bus di Delhi.

Beberapa hari kemudian, mahasiswi ini meninggal akibat luka-luka yang ia derita. Empat pelakunya dihukum gantung.

Hukuman berat tak membuat angka perkosaan menurun di India. Catatan resmi menunjukkan, terjadi 33.997 kasus perkosaan pada 2018, setara dengan satu perkosaan setiap 15 menit. Namun para pegiat meyakini, angka yang sebenarnya jauh lebih tinggi karena banyak kasus perkosaan yang tidak dilaporkan.

Banyak yang tidak diberitakan, hanya yang paling brutal  yang biasanya dimuat oleh media. Beberapa hari lalu, seorang sopir ambulans dilaporkan memperkosa pasien Covid-19 yang tengah ia angkut ke rumah sakit.

Bulan lalu, seorang bocah berusia 13 tahun diperkosa di ladang tebu. Mata korban dicongkel dan lidahnya dipotong, menurut penuturan sang ayah.

Pada bulan Juli, seorang anak berumur enam tahun diculik dan diperkosa. Pelaku melukai korban dengan harapan korban tidak mengenalinya. Melihat usia korban, pegiat Yogita Bhayana, mengatakan tidak ada kelompok usia yang aman dari ancaman perkosaan. Ia mengatakan korban mulai dari usia satu bulan hingga 60-an tahun.

Setelah perkosaan brutal pada 2012 yang dikutuk masyarakat internasional, India mengeluarkan undang-undang baru yang menjatuhkan hukuman berat bagi pelaku perkosaan. Pemerintah juga menjanjikan proses hukum yang cepat untuk kasus perkosaan.

Namun, para pegiat meyakini, di lapangan tak ada perubahan yang signifikan. Tatkala seorang pria korban perkosaan angkat bicara
Majalah Singapura picu kemarahan karena 'salahkan' korban perkosaan.
Perempuan memaksa laki-laki berhubungan seks, apakah itu tergolong perkosaan?
Bhayana mengatakan ini semua karena melindungi perempuan bukan menjadi prioritas pemerintah.

Dalam beberapa tahun terakhir ia menulis lebih dari 100 surat kepada Perdana Menteri Narendra Modi mendesak keadilan bagi para korban perkosaan. Namun tak satu pun pemerintah mengirim surat balasan.

"Mengapa perdana menteri tak mau membahas masalah ini secara terbuka?" kata Bhayana.

'Tak ada yang menganggap sebagai masalah penting'

Saat masih menjadi oposisi, Modi menyebut Delhi sebagai "ibu kota perkosaan". Dan setelah berkuasa, ia sempat menyinggung soal kasus-kasus perkosaan di India, yang sebut sebagai hal yang sangat memalukan.

Ia meminta orang tua agar memberi pendidikan yang benar kepada anak laki-laki mereka. Namun setelah itu, kata para pegiat, Modi praktis bungkam di tengah naiknya angka kasus perkosaan. Kecuali pada 2018, ketika tersiar berita beberapa anggota partai yang ia pimpin terlibat dalam kasus perkosaan.

Bagi pegiat seperti Bhayana, tidak ada satu formula ampuh untuk mengatasi kejahatan gender.

Harus diambil banyak tindakan agar masalah ini bisa ditekan, mulai dari reformasi yudisial, perubahan perilaku aparat penegak hukum, hingga metode forensik yang lebih akurat.

Di luar itu semua, kata Bhayana, perlu ada kesadaran gender. "Kita harus mengubah cara pandang, agar kita bisa mencegah tindak kejahatan ini," katanya.

"Ini tidak gampang. Saya sudah menjadi aktivis selama delapan tahun. Saya tak pernah bertemu satu orang pun yang menganggap masalah ini sebagai persoalan penting," kata Bhayana. (@fen/sumber: bbcnews) **

CARNYAM SARWA "A", Gara-gara Randa Anyar (5) Nyacampah Garwa

Foto: kreasi Dola AI "Haaaar.....naha kalah ngabarakatak?" "Nya ngabarakatak Bah, masa Abah-abah ngajakan garwaan...