Iklan 8

Selasa, 07 Juli 2020

Kasek SMAN 18 Garut Bantah Tahan Ijazah Siswa karena Belum Bayar Iuran


Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah XI Jawa Barat,  Asep Sudarsono./visi.news/zaahwan aries

WARNA-warni-WARTA.blogspot.com.- Berita tanda kelulusan atau ijazah salah seorang siswa yang ditahan dengan alasan belum bayar iuran, dengan tegas dibantah Kepala Sekolah (Kasek) SMAN 18 Garut, Sofyan Hidayat. 

Menurut Sofyan, pihak orang tua siswa telah salah paham sehingga beranggapan pihak sekolah telah menahan ijazah anaknya hanya karena belum melunasi iuran sebesar Rp 2 juta.

"Tidak benar, kenyataannya bukan seperti itu. Pihak sekolah punya kebijakan kok untuk membantu siswa termasuk memberikan semua kebutuhan siswa yang telah lulus," kata Sofyan di ruang Kepsek, Selasa (7/7), seperti dilansir situs VISI.NEWS.

Menurut Sofyan, jangankan siswa yang hanya mempunyai tunggakan Rp 2 juta, yang lebih besar dari itu juga tak ditahan ijazahnya. Ia mencontohkan, ada siswa yang masih punya tunggakan hingga Rp 10 juta, tetapi ijazahnya tetap diberikan setelah orang tuanya datang ke sekolah.

Terkait ungkapan yang dilontarkan orang tua Afrizal, siswa yang ijazahnya ditahan pihak sekolah, yang menyebutkan telah datang ke sekolah. Akan tetapi tetap diminta untuk membayar setengahnya, Sofyan juga membantah hal itu. Ia tetap bersikukuh jika orang tua Afrizal telah salah paham karena sebenarnya tak ada alasan bagi pihak sekolah untuk menahan ijazah siswa.

Di masa pandemi Covid-19 ini, tutur Sofyan, sekolah memberikan keringanan kepada para orang tua siswa dalam hal iuran. Hal itu pun telah disampaikan kepala sekolah ke tiap wali kelas sehingga tak mungkin jika sampai ada ijazah siswa yang lulus ditahan.

"Untuk apa pihak sekolah menahan ijazah siswa? Silahkan saja orang tuanya datang ke sekolah untuk membawa ijazah anaknya dan tidak usah dibayar kalau memang tak punya. Hampir semua STTB siswa hari ini sudah bisa dibawa, kecuali anak atau orang tuanya yang tidak datang ke sekolah," tegas Sofyan. 

Terkait adanya uang perpisahan yang menurut orang tua siswa juga harus dibayar, Sofyan menegaskan bahwa hal itu juga tidak perlu. Apalagi untuk tahun ini memang tidak ada kegiatan perpisahan yang dilaksanakan di sekolah.

Sementara itu Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah XI Jawa Barat, Asep Sudarsono, menyebutkan pihaknya tak mengharapkan adanya pengaduan jika pihak sekolah menahan ijazah siswa hanya dengan alasan belum melunasi iuran. 

"Pihak sekolah punya kebijakan untuk memberikan keringanan kepada siswa tidak mampu. Namun memang harus ada persyaratan yang dibuat pihak orang tua, yakni membuat pernyataan dan mengajukan ke sekolah," ujar Asep.

Menurutnya, pernyataan itu sangat dibutuhkan pihak sekolah untuk pertanggungjawaban. Jika suatu saat ada orang tua siswa lain yang mempertanyakan. 

"Maka pihak sekolah bisa membuktikan keabsahan tersebut. Dan pihak sekolah pun tentu tak akan sampai mempersulit," kata Asep. 

Asep jmenandaskan,  pihak orang tua siswa tak perlu membayar uang iuran untuk perpisahan karena tahun ini tak ada kegiatan apa pun di sekolah. Di masa Covid-19 jangankan perpisahan, pelaksanaan Ujian Nasional pun dibatalkan.

Asep mengaku, pihaknya telah memerintahkan Kepala SMAN 18 untuk membantu meringankan siswa kurang mampu. Ia pun meminta orang tua Afrizal untuk datang ke sekolah, mengambil ijazah anaknya agar bisa dipergunakan sesuai keperluan. (@fen) **


Dendam Dituduh Curi Ayam, YH Nekat Bakar 3 Unit Mobil



Tersangka pembakar 3 unit mobil digelandang ke kantor polisi./visi.news/ayi kuraesin.

TASIKMALAYA - Pelaku pembakar 3 unit mobil, YH (29) warga Kelurahan Cipedes, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengaku nekat membakar mobil karena sakit hati yang kemudian timbul rasa dendam setelah dituduh mencuri ayam.

YH tidak merasa mencuri ayam. Namun pemilik mobil Ade Solihat (53) menuduh YH mencuri ayam. Atas tuduhannya itu YH merasa sakit hati dan menyimpan dendam untuk membalas rasa sakitnya itu.

Hingga suatu saat, YH melepas rasa sakit hati dan dendamnya itu dengan membakar mobil milik Ade.

“Saya merasa sakit hati dan dendam setelah dituduh mencuri ayam. Padahal saya tidak mencuri,” ucap YH sambil tertunduk saat dalam pemeriksaan, Selasa (7/7), seperti dilansir VISI.NEWS.

Menurutnya, atas tuduhan itu YH merasa sakit hati yang hingga ke ubun-ubun, hingga timbul rasa dendam. Perasaan dendam itu dilampiaskan YH dengan membakar mobil milik Ade, warga Bojongkaum, Kelurahan Panglayungan.

Karena sudah gelap mata oleh rasa dendam, YH membawa karung dari rumahnya dengan maksud membakar mobil. Sesampainya di lokasi, YH menyimpan karung itu di bawah mobil grand max dan membakarnya.

“Saya sudah gelap mata oleh rasa sakit hati dan dendam. Saya berpikir harus membalas rasa sakit hati itu. Maka saya membawa karung dan dibakar di kolong mobil, selanjutnya saya pergi,” kata YH.

Akibat perbuatannya itu, mobil pik-up milik Ade terbakar. Bahkan dua mobil yang berada di dekatnya ikut terbakar. Kejadian itu mengundang perhatian warga sekitar dan melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Sementara itu Kapolsek Indihiang, Polresta Tasikmalaya, Kompol Didik Rohim Hadi mengatakan semula menyangka kejadian tersebut akibat korsleting listrik. Tapi setelah hasil olah tempat kejadian perkara dan penyelidikan, ternyata kebakaran itu bukan akibat korsleting listrik. Sekitar seminggu melakulan penyelidikan, akhirnya dapat mengungkap kasus tersebut.

“Benar, awalnya ada laporan dari warga mobil terbakar. Setelah dilakulan olah TKP dan penyelidikan, ada kejanggalan atas terbakarnya itu. Selanjutnya ditindaklanjuti di lapangan,” ucapnya.

Menurutnya, hasil olah TKP terungkap bahwa itu disimpulkan bukan akibat korsleting listrik, namun ada unsur kesengajaan. Atas kesimpulan itu, pihaknya pun meningkatkan penyelidikan, melakukan pemeriksaan saksi yang dianggap mengetahui kejadian tersebut.

Selama seminggu melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan saksi, hingga akhirnya mengarah pada tersangka. Tidak membutuhkan waktu lama, tersangka pun berhasil diringkus.

“Tak membutuhkan waktu lama, setelah diperoleh titik terang pelakunya langsung diamankan,” tuturnya.

Dikatakan dia, tanpa mengelak pelaku mengakui perbuatannya. Pelaku juga mengakui perbuatannya itu didasari sakit hati terhadap korban. Antara tersangka dengan korban pernah ada permasalahan. Kemudian tersangka melampiaskan kekesalannya dengan membakar mobil korban.

“Tersangka terancam hukuman 12 tahun penjara karena melanggar pasal 187 KUHPidana,” tuturnya.

Dijelaskan Didik, kasus ini berawal dari 3 buah mobil yang sedang terparkir di Kampung Gunungbalaba, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Senin (29/06/2020) malam pukul 22.30. Sebanyak 3 unit mobil hangus terbakar dalam satu malam.

Ketiga mobil itu adalah pick-up Grand Max warna putih bernopol Z 8832 KG milik Ade (53), warga Bojong Kaum, Cipedes, sedan Toyota Corola Dx bernopol D 1480 KN, milik Dani (32) warga Panglayungan, Cipedes. Kemudian pick-up Suzuki tanpa plat nomor sudah rusak alias tidak jalan milik Ujang Doon (40), warga Panglayungan, Cipedes.

Api diduga muncul dari mobil pick-up Grand Max. Akibat kebakaran itu, ketiga mobil mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan kembali. Kerugian ditaksir sekitar Rp 90.000.000. (@fen) **

Senin, 06 Juli 2020

Masih Punya Tunggakan, Ijazah Siswa Ditahan, Sang Ayah Hanya Titikkan Air Mata


Oyi, orang tua siswa./visi.news/zaahwan aries.

GARUT.- Perasaan sedih terlihat jelas di raut muka Oyi Supriatna (52).  Warga Kampung Cireundeu Sipah, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat,  ini mengaku sangat menyesal karena tak bisa membantu anaknya yang baru lulus dari sebuah SMK untuk mendapatkan tanda kelulusannya.

Oyi mengaku sangat merasa bersalah karena gara-gara dirinya tak bisa bekerja lagi, anak laki-laki pertamanya, Reza Subagja (18) kini tak bisa mengambil tanda kelulusan dari sekolahnya. Hal ini karena anaknya masih punya tunggakan piutang ke sekolah sebesar Rp 2 juta.

Dikisahkannya, ia sudah tak mampu lagi bekerja untuk mencari nafkah sejak 8 bulan terakhir tepatnya setelah pandangan matanya kabur. Hal ini terjadi menyusul penyakit diabetes yang sudah dideritanya sejak 5 tahun lalu.

"Sebagai kepala keluarga, seharusnya saya yang menanggung semua kebutuhan keluarga, mulai  makan hingga biaya sekolah. Namun untuk saat ini saya bukannya tak mau bertanggung jawab, tapi karena kondisi saya yang sudah tak punya kemampuan akibat pandangan saya yang sudah kabur," ujar Oyi saat ditemui di rumah adiknya di kawasan Kampung Cireundeu Sipah, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Senin (6/7), seperti dilansir situs berita VISI.NEWS.

Sewaktu kondisi kesehatannya masih baik, diungkapkan Oyi, dirinya bekerja di bidang pertanian dengan penghasilan yang cukup untuk menafkahi keluarganya. Begitu pun setelah dirinya menderita penyakit diabetes, ia masih bisa mencari nafkah untuk keluarganya.

Namun semuanya berubah total setelah penyakit diabetes yang dideritanya mulai menimbulkan dampak lebih buruk dimana pandangan matanya mulai kabur. Sejak saat itu sehari-harinya ia hanya bisa terduduk di teras rumahnya.

Diakuinya, begitu mendengar kabar anak sulungnya akan lulus dari sebuah SMKN, ia merasa sangat bahagia dan bangga. Ia berharap anaknya bisa segera bekerja karena kebetulan ada program yang akan diikuti agar bisa bekerja di Jepang.

Namun sayang, kebahagiaan yang dirasakan Oyi langsung berubah menjadi kesedihan yang begitu dalam karena anaknya tak bisa mengambil tanda kelulusan. Hal ini karena pihak sekokah menahan tanda kelulusan anaknya karena masih mempunyai piutang sebesar Rp 2 juta ke sekolah.

"Sejak pandangan mata saya kabur, saya memang sudah tak bisa lagi melakukan kewajiban saya sebagaimana layaknya seorang kepala keluarga. Saya tak bisa lagi bekerja sehingga tak lagi bisa memberikan biaya untuk kebutuhan keluarga termasuk biaya sekolah anak saya," katanya.
 
Di matanya, Reza merupakan anak yang sangat rajin dan mempunyai semangat belajar yang tinggi. Hal ini sudah terlihat sejak Reza masih belajar di bangku SD hingga SMK. 

Meski jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, Reza tak pernah segan berjalan kaki baik saat berangkat maupun pulang sekolah. Ia pun tak pernah  mengeluh walau harus berangkat sekolah dengan hanya membawa bekal Rp 1.000 atau Rp 2.000 saja.

Oyi menuturkan, jika teringat akan kesungguhan anaknya untuk belajar, tak jarang ia sampai menitikkan air matanya. Apalagi dengan kondisinya yang seperti saat ini yaitu dirinya sama sekali tak berdaya ketika anaknya menemui kesulitan karena tak bisa mengambil tanda kelulusannya di sekoah.

Disampaikan Oyi, menurut keterangan anaknya, tanda kelulusannya tak bisa diambil karena pihak sekokah meminta sisa tunggakan uang SPP, uang buku, dan biaya perpisahan dilunasi dulu. Pihak sekolah baru akan memberikan tanda kelulusan Reza kalau tunggakan sebesar Rp 2 juta tersebut sudah dilunasi.

"Saya benar-benar bingung dan sedih dibuatnya. Sampai-sampai saya nyaris nekad pinjam uang ke rentenir, untung saya keburu sadar dari mana nanti cari untuk membayarnya?" ucap Oyi.

Lebih jauh Oyi menceritakan, dengan didampingi anggota BPD (Badan Perwakilan Desa), Senin pagi istrinya telah mencoba datang ke SMKN 18, tempat anaknya selama ini menimba ilmu. Maksud kedatangan istrinya tak lain untuk membicarakan kesulitan dirinya.

Sementara itu, istri Oyi, Dede Sumarni mengatakan bahwa pihak sekolah memintanya tetap harus menyelesaikan administrasi. Besok ia diminta datang lagi ke sekolah dengan membawa uang meskipun belum penuh sebesar Rp 2 juta.

"Saat ini saya juga masih bingung karena besok harus datang lagi ke sekokah dengan membawa sebagian uang tunggakan yang tetap harus dibayar. Saya sendiri mengaharapkan ada kebijakan dari pihak sekokah untuk memberikan keringanan atau membebaskan iuran karena memang kami sama sekali tak punya uang," kata ibu rumah tangga yang kesehariannya bekerja sebagai tukang obras pakaian ini. (@fen) ** 


Polisi Ringkus Pelaku Pembakar 3 Unit Mobil di Cipedes Kota Tasikmalaya


Tersangka pembakar tiga unit kendaraan roda empat berhasil dibekuk tim Reskrim Polsek Indihiang./visi.news/ayi kuraesin.

TASIKMLAYA.-
Unit Reskrim Polsek Indihiang, Polres Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, meringkus seorang pria berinisial YH (29), Senin (6/7) dini hari. Tersangka yang diketahui warga Kelurahan Cipedes, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, tersebut diduga sebagai pelaku pembakaran tiga unit mobil

Melansir VISI.NEWS, Kapolsek Indihiang, Polresta Tasikmalaya, Kompol Didik Rohim Hadi membenarkan terkait penangkapan tersebut. Pelaku diduga sebagai pelaku pembakar tiga unit mobil di wilayah Cipedes. Saat itu pihaknya mendapatkan laporan dari masyarakat ada tiga unit kendaraan yang terbakar di Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes.

Atas laporan tersebut, pihaknya melakulan penyelidikan. Sekitar seminggu melakulan penyelidikan, akhirnya dapat mengungkap kasus tersebut. Awalnya, menduga terbakarnya mobil tersebut akibat terjadi korsleting arus listrik kendaraan. Namun hasil olah TKP, terjadinya kecurigaan bahwa itu bukan akibat korsleting.

"Benar, awalnya ada laporan dari warga mobil terbakar. Setelah dilakulan olah TKP dan penyelidikan, ada kejanggalan atas terbakarnya itu. Selanjutnya ditindaklanjuti di lapangan," kata Didik Rohim Hadi.

Menurutnya, hasil olah TKP terungkap bahwa itu bukan akibat korsleting listrik, namun ada unsur kesengajaan. Atas kesimpulan itu, pihaknya pun meningkatkan penyelidikan, melakukan pemeriksaan saksi yang dianggap mengetahui kejadian tersebut.

Selama seminggu melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan saksi, hingga akhirnya mengarah pada tersangka. Tidak membutuhkan waktu lama, tersangka pun berhasil diringkus. 

"Tak membutuhkan waktu lama, setelah diperoleh titik terang pelakunya langsung diamankan," tuturnya. 

Dikatakan Didik, tanpa mengelak pelaku mengakui perbuatannya. Pelaku juga mengakui perbuatannya itu didasari sakit hati terhadap korban. Antara tersangka dengan korban pernah ada permasalahan. Kemudian tersangka melampiaskan kekesalannya dengan membakar mobil korban. 

"Tersangka terancam hukuman 12 tahun penjara karena melanggar pasal 187 KUHPidana," tuturnya. 

Dijelaskan Didik, kasus ini berawal dari 3 unit mobil yang sedang terparkir di Kampung Gunungbalaba, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Senin (29/6) malam pukul 22.30, ada 3 unit mobil ludes terbakar dalam satu malam. 

Ketiga mobil itu adalah pick up Grand Max warna putih bernopol Z 8832 KG milik Ade (53), warga Bojongkaum, Cipedes, sedan Toyota Corola Dx bernopol D 1480 KN, milik Dani (32) warga Panglayungan, Cipedes. Kemudian pick up Suzuki tanpa plat nomor sudah rusak alias tidak jalan milik Ujang Doon (40), warga Panglayungan, Cipedes.

Api diduga muncul dari mobil pick up Grand Max. Akibat kebakaran itu, ketiga mobil mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan kembali. Kerugian ditaksir sekitar Rp 90.000.000.(@fen) **

Minggu, 05 Juli 2020

PILKADA 2020 JABAR: Herman Suherman-TB Mulyana Melenggang di Pilkada Cianjur




Ilustrasi Pilkada Serentak./ayobandung.com/ist.

CIANJUR.- Rekomendasi Partai Nasdem melengkapi pasangan Herman Suherman-TB Mulyana Syahrudin mengantongi 11 kursi, menjadikannya sebagai kontestan di Pilkada Cianjur 2020.

Turunnya rekomendasi dari Partai Nasdem, berarti sudah 11 kursi (Nasdem 6, PAN 3, PPP 2) yang mengusung pasangan ini atau cukup untuk tiket syarat minimal pencalonan.

Surat rekomendasi dari DPP Partai Nasdem diserahkan oleh Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Cianjur, Oni S Sandi, di sela-sela kegiatan pelantikan pengurus DPD Partai Nasdem Kabupaten Cianjur di Le Eminence Hotel Cipanas, Cianjur, Minggu (5/7) malam.

"Rekomendasi ini melengkapi rekomendasi sebelumnya dari PAN dan PPP. Jadi untuk syarat pendaftaran sudah memenuhi satu tiket," ujar Oni kepada wartawan, Minggu (5/7), seperti dilansir ayobandung.com.

Pihaknya optimistis bisa memenangi pasangan Herman Suherman-TB Mulyana dengan basis data digital anggota partai yang saat ini sedang dalam proses.

"Dengan basis data itu bisa diperkirakan data pemilih yang akan memenangi pilkada nanti," kata Oni.

Oni pun menjamin Partai Nasdem Kabupaten Cianjur solid. Hal ini dibuktikan dengan pengukuhan dan pelantikan pengurus yang dilakukan berbarengan dengan penyerahan surat rekomendasi.

"Kami jamin solid, kalau ada kader atau pengurus yang mendukung pasangan lain, ada sanksi pemecatan," tandas Oni.

Sementara itu, Herman Suherman dan pasangannya, TB Mulyana Syahrudin, mengaku yakin bisa memenangi kontestasi dalam pilkada setelah mendapatkan kepastian diusung minimal 3 partai.

Menurut Herman, dengan diterimanya rekomendasi dari Partai Nasdem berarti sudah cukup satu tiket untuk mendaftar ke KPU.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Partai Nasdem yang sudah merekomendasikan pasangan Herman Suherman dan TB Mulyana Syahrudin untuk maju dalam pilkada nanti," kata Herman.

Herman yakin Partai Golkar pun akan menyusul menyampaikan surat rekomendasi.

"Pasangan saya kan Ketua Partai Golkar, jadi sudah pasti bakal menyusul," imbuh Herman.

Herman pun yakin perjuangannya dalam pencalonan ini akan memberi hasil maksimal karena kerja keras sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari.

"Perjuangan saya dengan Pak TB Mulyana sudah panjang, jadi kami yakin hasilnya pun akan maksimal," ujarnya. (@fen) **

Di Senin Pagi, Antrean Penumpang Mengular di Stasiun Bogor

Antrean penumpang mengular di Stasiun Bogor./istimewa.

BOGOR.- Suasana di Stasiun Bogor tampak ramai penumpang pada Senin (6/7) pagi. Masyarakat mengantre untuk dapat naik kereta rel listrik (KRL).

Salah satu pengguna akun Twitter @lisakarismawati menggunggah video yang menampilkan antrean penumpang. Tampak antrean mengular sejak subuh.

"Selamat pagi dari para pejuang commuter @CommuterLine @CurhatKRL," tulis @lisakarismawati. 

Netizen lainnya mengaku sudah mengantre satu jam untuk dapat naik KRL di Stasiun Bogor. Menurutnya, antrean pagi ini membeludak.

"Luar biasa sih stasiun bogor. Dateng jam 5 dan jam 6 masih di sini Ntah kenapa antrian yg mau naik @CommuterLine di bogor membludak luar biasah !!!! 1 jam pegel buk !!!," tulis @berlianadewii3.

Sementara itu, akun Twitter resmi PT KCI mengimbau penumpang untuk tetap menjaga jarak demi kesehatan bersama.

"Kami imbau untuk senantiasa mengikuti arahan petugas di lapangan & mematuhi marka Physical Distancing yg tersedia serta mengatur kembali waktu perjalanan," tulis @CommuterLine. (@fen) **


Sejoli Bareng Tewas di Kos, Polisi Temukan Cairan Misterius

Pasangan kekasih tewas di kos di Badung, Bali, Minggu (5/7)./beritabali.com/via suarajatim.id.

BADUNG.- Pasangan kekasih Kadek Ardana (29) dan Kadek Suartini (28) ditemukan tewas di sebuah kamar kos di Jalan Raya Kayu Tulang, Desa Canggu, Kuta Utara, Badung, Bali pada Minggu (5/7) pagi.

Di kamar kos itu ditemukan beberapa botol air mineral berisi cairan misterius diduga racun yang kemungkinan digunakan untuk bunuh diri.

Pertama kali ditemukan anggota buser Polsek Kuta Utara, kondisi Kadek Ardana sangat mengenaskan. Dari mulut pria asal Desa Panji, Sukasada, Buleleng itu mengeluarkan busa diduga usai meminum cairan berbahaya tersebut.

Sedangkan pacarnya Kadek Suartini sama sekali tidak ditemukan mulut berbusa. Hanya saja, perempuan asal Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Buleleng itu terlihat luka seperti sengatan panas di bagian pinggul kiri, lutut, betis dan paha, bahkan hingga mengeluarkan kotoran di bagian anus.

Menurut Kasubag Polres Badung Iptu Ketut Gede Oka Bawa, pihaknya sudah memeriksa sejumlah saksi terkait kematian pasangan kekasih tersebut.

Dari keterangan saksi Putu Mertayasa (32) terungkap pada Minggu (5/7) sekitar pukul 10.30 WITA, saksi datang ke TKP bersama pamannya, Made Sukarma. Maksud kedatangan tak lain ingin melihat kondisi saudaranya Kadek Suartini yang sejak kemarin tidak bisa dihubungi via telpon.

Setibanya di lokasi, kedua saksi berusaha membuka pintu kamar korban tapi terkunci dari dalam. Melihat itu, saksi Made Sukarma berusaha naik ke atas pintu. Ia pun kaget melihat korban laki-laki terbaring di lantai dengan posisi tengadah.

"Saksi memaksa mendobrak pintu kamar dan melihat laki-laki terbaring di lantai. Sedangkan korban perempuan berada di kamar mandi dengan posisi tengkurap. Saksi kemudian mengangkat tubuh keponakannya itu disamping laki-laki," ujar Iptu Oka sebagaimana dilansir SuaraJatim.id dari Beritabali.com. 

Aparat Polsek Kuta yang menerima informasi tersebut mendatangi TKP. Polisi memeriksa seluruh ruangan dan menemukan botol mineral berisi cairan yang diduga digunakan untuk bunuh diri.

Adapun barang-barang yang ditemukan di dalam kamar kos yakni 2 buah HP di atas meja, 2 buah botol mineral masih berisi sedikit cairan berwarna biru.

Selain itu ada juga 1 gelas warna merah dan di sampingnya ada pisau kater di atas meja dapur dan 1 botol mineral dekat tabung gas di dalam kamar berisi cairan warna merah muda.

Sementara ini, polisi belum bisa menyimpulkan penyebab kematian kedua korban. Namun dari keterangan saksi Lukman yang juga tetangga kos korban, keduanya memang kerap terlihat bertengkar. Dua hari lalu sebelum ditemukan tewas keduanya bertengkar hebat.

"Informasi dari tetangga kos, dua hari lalu keduanya bertengkar hebat. Keduanya berstatus pacaran tinggal sekamar," ungkap Iptu Oka.

Selanjutnya, petugas identifikasi Polres Badung melakukan olah TKP. Sekitar pukul 11.40 WITA, ambulance BPBD Kabupaten Badung tiba di TKP dan membawa jenasah korban ke RSUD Mangusada Kapal, Mengwi Badung. (@fen) **

Pasangan kekasih tewas di kos di Badung, Bali, Minggu (5/7)./beritabali.com/via suarajatim.id.

BADUNG.- Pasangan kekasih Kadek Ardana (29) dan Kadek Suartini (28) ditemukan tewas di sebuah kamar kos di Jalan Raya Kayu Tulang, Desa Canggu, Kuta Utara, Badung, Bali pada Minggu (5/7) pagi.

Di kamar kos itu ditemukan beberapa botol air mineral berisi cairan misterius diduga racun yang kemungkinan digunakan untuk bunuh diri.

Pertama kali ditemukan anggota buser Polsek Kuta Utara, kondisi Kadek Ardana sangat mengenaskan. Dari mulut pria asal Desa Panji, Sukasada, Buleleng itu mengeluarkan busa diduga usai meminum cairan berbahaya tersebut.

Sedangkan pacarnya Kadek Suartini sama sekali tidak ditemukan mulut berbusa. Hanya saja, perempuan asal Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Buleleng itu terlihat luka seperti sengatan panas di bagian pinggul kiri, lutut, betis dan paha, bahkan hingga mengeluarkan kotoran di bagian anus.

Menurut Kasubag Polres Badung Iptu Ketut Gede Oka Bawa, pihaknya sudah memeriksa sejumlah saksi terkait kematian pasangan kekasih tersebut.

Dari keterangan saksi Putu Mertayasa (32) terungkap pada Minggu (5/7) sekitar pukul 10.30 WITA, saksi datang ke TKP bersama pamannya, Made Sukarma. Maksud kedatangan tak lain ingin melihat kondisi saudaranya Kadek Suartini yang sejak kemarin tidak bisa dihubungi via telpon.

Setibanya di lokasi, kedua saksi berusaha membuka pintu kamar korban tapi terkunci dari dalam. Melihat itu, saksi Made Sukarma berusaha naik ke atas pintu. Ia pun kaget melihat korban laki-laki terbaring di lantai dengan posisi tengadah.

"Saksi memaksa mendobrak pintu kamar dan melihat laki-laki terbaring di lantai. Sedangkan korban perempuan berada di kamar mandi dengan posisi tengkurap. Saksi kemudian mengangkat tubuh keponakannya itu disamping laki-laki," ujar Iptu Oka sebagaimana dilansir SuaraJatim.id dari Beritabali.com. 

Aparat Polsek Kuta yang menerima informasi tersebut mendatangi TKP. Polisi memeriksa seluruh ruangan dan menemukan botol mineral berisi cairan yang diduga digunakan untuk bunuh diri.

Adapun barang-barang yang ditemukan di dalam kamar kos yakni 2 buah HP di atas meja, 2 buah botol mineral masih berisi sedikit cairan berwarna biru.

Selain itu ada juga 1 gelas warna merah dan di sampingnya ada pisau kater di atas meja dapur dan 1 botol mineral dekat tabung gas di dalam kamar berisi cairan warna merah muda.

Sementara ini, polisi belum bisa menyimpulkan penyebab kematian kedua korban. Namun dari keterangan saksi Lukman yang juga tetangga kos korban, keduanya memang kerap terlihat bertengkar. Dua hari lalu sebelum ditemukan tewas keduanya bertengkar hebat.

"Informasi dari tetangga kos, dua hari lalu keduanya bertengkar hebat. Keduanya berstatus pacaran tinggal sekamar," ungkap Iptu Oka.

Selanjutnya, petugas identifikasi Polres Badung melakukan olah TKP. Sekitar pukul 11.40 WITA, ambulance BPBD Kabupaten Badung tiba di TKP dan membawa jenasah korban ke RSUD Mangusada Kapal, Mengwi Badung. (@fen) **

CARNYAM SARWA "A", Gara-gara Randa Anyar (5) Nyacampah Garwa

Foto: kreasi Dola AI "Haaaar.....naha kalah ngabarakatak?" "Nya ngabarakatak Bah, masa Abah-abah ngajakan garwaan...